Showing posts with label Asian Flick. Show all posts
Showing posts with label Asian Flick. Show all posts

Monday, 13 June 2016

Jan Dara: The Finale (2013) - Like Father Like Son.


Selepas diusir dari rumah besar itu, Jan dan Ken pergi ke ke rumah nyonya besar atau suami pertama ayah Jan. Nyonya besar yang tinggal jauh dari keramaian, menceritakan semua masa lalu tentang dirinya dan ibu kandung Jan Dara. Lewat bermacam flashback dengan beberapa detil erotismenya, kisah masa lalu ini hampir memakan durasi setengah jam.

Terdengar kabar jika ayah Jan Dara sakit keras disaat yang sama berbarengan meninggalnya nyonya besar. Lalu Jan dan Ken kembali ke rumah besar itu lagi. Kali ini Jan kembali sebagai pewaris harta nyonya besar dan menggantikan ayahnya yang kejam. Awalnya Jan menjadi sosok yang menyenangkan. Ken yang kini telah menikah dan punya anak menjadi tangan kanannya. Bahkan Jan menikahi Kin yang hamil karena pergaulan bebasnya, lantaran kekasihnya telah berpulang saat Jan kembali lagi ke rumah besar. Hanya saja, Jan tidak bisa bermuka manis kepada ayahnya. Balas dendamnya dia lampiaskan dengan sukacita kali ini. Apa yang telah diperbuat ayahnya di masa lalu kini dia balas dengan tindakan serupa, bahkan termasuk meniduri selir ayahnya.


Lambat laun Jan Dara berubah seperti ayahnya. Sifat dan tingkah lakunya sama persis sehingga Ken pun tak betah tinggal dirumah besar itu lagi. Ken akhirnya memutuskan pergi dan membuka usahanya sendiri. Hingga pada suatu hari saat pecah perang dunia, Jepang menginvasi Thailand. Kemelut dirumah besar belum usai, kini datang perang yang akan menewaskan banyak orang termasuk keluarga Jan Dara. Apa yang terjadi di akhir kisah? 

Tentu saja penonton tahu jika Jan Dara dan Ken tetap hidup karena cerita ini diceritakan oleh mereka berdua di bangku taman. Tapi apakah Jan Dara akan menemukan kebahagian sejatinya?


Yang telah menyaksikan Jan Dara The Beginning, The Finale nampaknya sebagai pelengkap saja sekedar ingin menuntaskan kisah Jan Dara. Kadar erotismenya mulai mengendor di separuh terakhir film seiring mengendornya akting para bintangnya. Ritme cerita yang terlalu dibuat dramatis menjadikan film ini terlalu lebay. The Finale makin tidak menunjukkan keotentikan eksotisme Thailand dengan memasang banyak bintang berkulit putih bersih bak orang China. Bandingkan dengan versi 2001 yang lebih menggigit dramalurginya, dan bintang-bintangnya juga tampak begitu membumi dengan kulit sawo matang.


Mario Maurer ternyata kurang berani dan gagal memenuhi ekspetasi penonton yang berharap dijilid kedua ini dia lebih panas daripada Chaiyapol Julian Pupart. Padahal Chaiyapol sudah menyerahkan scene-scene panasnya untuk diambil alih oleh Mario Maurer dengan sedikitnya porsi cerita Ken, dan Ken juga lebih sering berbaju rapi. 

Sepertinya Mario Maurer belum mau mengotori reputasinya sebagai idola gadis remaja dan konsekuensinya aktingnya menjadi tidak all out. He even didnt workout to have great body. Yang cukup mengganggu adalah Jan dan Ken versi tua yang tetap diperankan dua bintang muda itu. Rasanya untuk perfilman masa kini, mengubah bintang menjadi tua dengan polesan make up yang standar bisa berujung cemoohan. 
 
Kalau memang memungkinkan, mengapa tidak benar-benar mencari aktor tua sungguhan? Bukankah Mario Maurer dan Chaiyapol Julian Pupart sudah sangat banyak jatah screen time-nya sepanjang dua jilid? Bandingkan dengan Jan Dara versi 2001 yang mengganti pemeran Jan Dara sebanyak 4 kali.

Jika anda belum menyaksikan Jan Dara versi 2001, dan masih penasaran dengan kisah Jan Dara yang setia dengan novelnya, ada baiknya anda menontonnya. Dan anda akan tahu mengapa versi 2001 jauh lebih superior dari versi-nya Mario Maurer inii.

Hollywoof! just can give JAN DARA THE FINALE a flat C+

Memorable scene: Adegan cabul Kin dan calon tunangannya yang tentara itu, and other cabul scene lah.

Wednesday, 2 December 2015

No Escape (2015) - Wrong Time. Wrong Place.


Premis No Escape sebenarnya tak terlalu istimewa. Kita telah banyak disodori film-film eksyen tentang seseorang (atau dua orang) yang berada di tempat dan waktu yang salah. Lalu orang tersebut harus bertahan hidup dengan segala upaya dan membuatnya menjadi pahlawan. No Escape kurang lebih punya plot seperti itu. Tapi, ada tapinya..seseorang tersebut adalah seorang ayah dan ibu dan kedua putri kecilnya yang harus mencari selamat di sudut kota di Asia Tenggara lantaran para pemberontak ala preman brutal tidak mengenal ampun membunuh para bule Amrik yang mereka temui. Gimana? Tertarik menontonnya?

Jack dan Annie Dwyer dan kedua putri mereka yang masih kecil baru saja menginjakkan kaki di sebuah negara di Asia Tenggara. Belum lagi habis lelah mereka setelah belasan jam di pesawat, mereka mendapati bahwa orang-orang perusahaan yang seharusnya menjemput mereka tak menampakkan batang hidungnya. Sesampai di hotel pun, Pria yang bakalan menjabat di perusahaan air minum di negara tersebut merasa jengkel karena siaran televisi, internet dan sambungan telepon tak ada sama sekali. Ada apa gerangan?

Jack baru mendapati jawabannya keesokan harinya saat harus keluar hotel hendak membeli koran di luar hotel. Apa jadinya jika ternyata para pemberontak ternyata membunuh Perdana Mentri negri itu dan membantai semua bule yang ada?

Yang terjadi mungkin sudah bisa ditebak, kita akan melihat Jack pontang-panting menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari kejaran para pemberontak yang keji dan kenal ampun.
Banyak kritikus yang menyebut film ini rasis karena pemberontak yang mengejar para bule digambarkan sangat one dimensional. Tapi ini sama sekali tidak terbukti jika kita mengikuti cerita dari awal hingga  akhir. Yang digambarkan keji dan kejam adalah para pemberontak yang geram dengan pemerintahan yang telah menjual aset negara kepada investor asing. Tokoh Jack Dwyer tidak tahu sama sekali mengapa dia dan keluarganya menjadi sasaran karena dia hanya pegawai perusahaan biasa.

One dimensional characters pada para pemberontak sangat menguntungkan penonton yang tak perlu repot-repot menelaah cerita yang tidak perlu dipolitisir terlalu berlebihan. Memang nanti akan ada penjelasan oleh tokoh yang diperankan Pierce Brosnan, namun fokus penonton tetap pada usaha penyelamatan diri Jack Dwyer dan anak istrinya.

Owen Wilson nampak sangat menjiwai perannya. Tokoh ayah yang diperaninya tidak terlalu heroik sehingga membuat karakter Jack Dwyer menjadi sangat pas. Mungkin inilah film pertama dimana dia memerankan peran serius, dan mengesankan` Lake Bell yang memerankan Annie Dwyer, sang istri, juga patut mendapat pujian.

Veteran 007, Pierce Brosnan sayangnya mendapat screen time sedikit, dan muncul menjadi penyelamat. Sangat disayangkan, memang. Namun ternyata malah membuat fokus kita terhadap keluarga Dwyer menjadi tidak terpecah.

No Escape adalah film eksyen yang mampu membuat penonton tercekam tanpa harus banyak ledakan dan bacok-bacokan tanpa juntrungan. Cukup dengan ritme cerita yang tepat dan plot sederhana tanpa membuat penonton banyak berpikir keras, No Escapa mampu membuat kita terengah-engah sepanjang durasi. Tontonlah.

Hollywoof! memberi nilai A-

Memorable Scene:
Saat Jack melempar satu persatu putrinya dari atap gedung ke atap gedung lainnya, sementara sang istri harus menyambutnya.

Scene Stealer:
Kenny Rogers. Lol


Wednesday, 25 November 2015

Jan Dara The Beginning (2012) - Selamat datang di Rumah Mesum!


Adaptasi novel erotis klasik Thailand karya Utsana Phlengtham yang berjudul The Story of Jan Dara diangkat ke layar lebar lagi. Rasanya belum lama kita menyaksikan versi tahun 2001 lalu yang cukup menggetarkan syahwat itu.

Versi kali ini memasang superstar Thailand yang makin menanjak karirnya yaitu Mario Maurer. Sejak membintangi film puber The Love of Siam saat masih ABG, karir bintang peranakan China dan Jerman ini makin meroket.

Berbeda dengan versi 2001, Jan Dara yang memakai embel-embel The Beginning ini hanya bercerita dari Jan Dara lahir hingga akhirnya meninggalkan rumah. Dengan begitu, cerita masing-masing tokoh bisa dengan leluasa dieksplorasi.

Dengan sedikit polesan di sana-sini, Jan Dara The Beginning masih mengisahkan kisah Jan Dara di rumah besar yang penuh nafsu bejat. Ibu Jan meninggal dunia saat melahirkan dirinya sehingga sang ayah membencinya setengah mati. Jan terus menerima cacian dan siksaan hingga besar sementara sang ayah melampiaskan nafsu bejatnya ke banyak perempuan. Salah satu perempuan yang dinikahi sang ayah ternyata sangat sayang padanya, walau nanti putrinya yang manja sangat membenci Jan Dara.

Jan Dara dan Ken, putra pembantu, berteman akrab. Ken yang seorang playboy kampung dan pandai berkelahi mengajari Jan dunia penuh nafsu birahi yang tak pernah usai. Untungnya, Jan Dara tidak terlalu terpengaruh. Di sela-sela hinaan dan perlakuan tidak adil dari sang ayah, Jan Dara tetap berkuliah dan bertemu gadis cantik yang dia sukai.

Saudari tiri Jan, Kun yang kerap mengintip aktifitas bejat Ken diam-diam menyukai Ken. Hingga suatu ketika Ken dan Kun melakukan hubungan intim dan Jan memergokinya. Dengan lihai, Kun yang culas menuduh Ken memperkosanya. Ayah Jan Dara ngamuk dan berujung Jan Dara dan Ken pergi dari rumah tersebut. Film ditutup dengan adegan Jan dan Ken kembali bersahabat dan meninggalkan kota di antar oleh ibu Ken dan ibu tiri Jan Dara yang baik hati.

Bagi yang telah menonton Jan Dara versi 2001, The Beginning seolah versi upgrade nya saja. Dalam artian, bintang-bintang yang terlibat lebih putih bersih dan seksi dibanding versi sebelumnya. Para pemainnya nampak tidak memperlihatkan kecantikan dan ketampanan khas Thailand di versi sebelumnya. Semua pemainnya memang bermain berani buka-bukaan, baik aktor dan aktrisnya, namun nampaknya tidak bagi Mario Maurer. Kecuali memang belum saatnya bermain berani di jilid pertama ini, rasanya aktingnya sangat hambar.

Bicara soal akting, nampaknya versi terdahulu jauh lebih unggul. Selain menjual wajah fresh, Jan Dara The Beginning terselamatkan oleh banyaknya adegan-adegan ranjang sepanjang film. Sayangnya, seperti yang di bilang sebelumnya, Mario Maurer bermain kaku di sini, padahal dia adalah pemeran utama yang menjadi tumpuan cerita. Sementara Chaiyapol Julian Pupart yang memerankan Ken jauh lebih berwarna dan yang jelas lebih beruntung karena dia mendapat jatah screen time jauh lebih banyak untuk mencicipi tubuh lawan-lawan mainnya. Tak heran, perannya yang tidak pernah mengenakan baju membuat Chaiyapol leluasa memamerkan dada dan sixpacknya sepanjang film. Jadi bisa dibilang dialah scene stealer dalam film ini.

Perfilman Thailand memang berbeda dengan perfilman kita, jadi jangan bertanya-tanya mengapa hampir semua bintang di film ini berani beradegan mesum. Lagipula film ini adalah adaptasi sebuah novel cabul juga. Sambil menunggu jilid selanjutnya, sebaiknya anda menonton Jan Dara versi terdahulu yang lebih lengkap ceritanya, dan tentu dengan bintang-bintang yang lebih khas Thailand. Kita lihat apakah Mario Maurer tampil lebih berani dari Chaiyapol di jilid berikutnya.

Hollywoof! thinks this film just deserves a B-

Memorable scene: Seharusnya adegan Jan Dara mengoleskan es batu ke tubuh selir ayahnya yang dijadikan poster film ini menjadi memorable, namun sayangnya sangat flat dan tidak menarik seperti versi sebelumnya. Jadi, memorable scene di film ini harus di rebut oleh semua adegan mesum Ken. The bathing scene is the best one.

Jan Dara The Beginning
Genre        :    Drama
Sutradara    :    Bhandevanov Devakula
Penulis        :    Bhandevanov Devakula
Pemain        :    Mario Maurer, Bongkot Kongmalai
Durasi        :    90 menit
Adaptasi    :    Novel karya Utsana Phlengtham, The Story of Jan Dara


Thursday, 12 November 2015

Killers (2014) - Reunion of Two Sociopaths



Mo Brothers pernah bikin kita ngilu dengan karyanya yang fenomenal untuk ukuran film Indonesia. Masih ingat dengan Rumah Dara yang berdarah-darah itu? Nah Killers ini adalah karya kedua mereka yang juga bikin bergidik penonton lagi dengan cara berbeda. Hebatnya lagi, PT. Merantau Films yang membidani The Raid dan sekuelnya ada dibelakang film thriller psikologis ini.

Killers menceritakan dua pria yang berada di negara berbeda. Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura), pria tampan dan karismatik, seorang eksekutif muda di Jepang yang punya sisi gelap mengerikan. Hobinya membunuh wanita-wanita, dan merekam proses meregang nyawa wanita-wanita malang tersebut untuk kemudian diunggah ke dunia maya. Pria satunya dalam cerita ini adalah Bayu Aditya (Oka Antara), seorang wartawan ambisius di Jakarta. Ambisi terbesarnya adalah membongkar kebusukan politikus tua busuk bernama Dharma (Ray Sahetapy), namun yang terjadi adalah kehancuran rumah tangganya dengan Dina (Luna Maya).

Tak sengaja Bayu menonton satu dari video-video yang di unggah Nomura. Dan dihari yang berbeda Bayu tanpa sengaja juga membunuh dua preman yang ingin merampoknya. Sedikit terinspirasi oleh video yang sebelumnya dia tonton di internet, Bayu merekam korban pertamanya dan ikut-ikut mengunggah video mengerikan itu. Kian lama Bayu makin terinspirasi dengan kebrutalan Nomura dan bahkan berkomunikasi langsung. Hingga akhirnya Bayu menjelma menjadi pembunuh berantai juga. Pilihan korban Bayu tentu saja Dharma dan antek-anteknya. Namun Bayu bukanlah Nomura yang sudah terlatih, sementara sasarannya bukan orang sembarangan. Bayu pun harus membayar mahal perbuatannya.

Sepanjang film, kisah berganti-ganti dengan dinamis antara kehidupan Bayu dan Nomura. Nomura pun diceritakan jatuh cinta dengan seorang wanita cantik beranak satu, namun apakah naluri membunuhnya akan berhenti hanya karena perasaan cinta? Ikatan emosional antara Bayu dan Nomura semakin kompleks saat Bayu ikut menyaksikan secara langsung proses pembantaian yang dilakukan Nomura, hingga akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk bertemu secara langsung! Waduh!



Cita rasa film Jepang yang lambat tapi membuat bergidik sangat terasa di segmen yang menceritakan Nomura. Eksplorasi karakter dan detil proses pembantaian wanita-wanita malang itu di atur dengan ritme yang lambat namun mengerikan. Sementara Bayu dan Istrinya diceritakan dengan gaya yang dinamis lantaran Bayu menjadi pembunuh berantai akibat dipaksa keadaan.

Disinilah terlihat kehebatan akting Oka Antara. Aktor yang kerap bermain sinetron ini mampu menguras emosi penonton dengan raut wajah bingungnya saat harus kehilangan semua yang ia punya demi ambisi yang kebablasan. Nampaknya aktor-aktor yang kerap terlibat di film-film produksi Merantau Films juga dilibatkan disini. Ray Sahetapy yang sukses membuat geram penonton sebagai dedengkot mafia narkoba di The Raid tetap prima dalam urusan akting. Urusan akting yang bagus juga ditampilkan oleh Luna Maya yang berperan sebagai istri Bayu, dan jangan lupa Epy Kusnandar juga tak kalah hebatnya berperan sebagai antek Dharma yang harus mati mengenaskan di tangan Bayu.



Di barisan bintang Jepang, Kazuki Kitamura, Rin Takanshi dan Mei Kurokawa juga menampilkan akting cemerlang. Kazuki Kitamura yang beperan sebagai Nomura yang dingin dan kejam berhasil membangun emosi penonton yang sabar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Plot Killers tidak secepat The Raid atau se-gory Rumah Dara, namun kengeringannya dibangun perlahan hingga klimaks yang mempertemukan dua pembunuh ini dengan cara yang tak terpikirkan penonton. Mo Brothers (Kimo Stamboel dan Timo Cahyanto, yang ikutan gaya Phang Brothers baik nama dan movie making style-nya) makin mantap di jalur film gory flick yang keahliannya makin tajam menakut-nakuti penonton dengan drama yang kuat. Penonton tentu saja berharap Merantau Film makin banyak menyokong sineas-sineas hebat macam mereka sehingga film-film Indonesia tak melulu berisi genre horor yang makin aneh dan bodoh.

Memorable scene: (Spoiler!!!) Bayu mendapati handycam yang berisi penyiksaan istrinya dan saat keluar dari rumah kontrakannya, dia melihat sosok seseorang yang tak pernah ia sangka akan ia lihat secara langsung.    

Hollywoof! memberi nilai: A

Killers
Genre        :    Drama / Action
Sutradara    :    Mo Brothers /
Penulis        :    Takuji Ushiyama / Mo Brothers
Pemain        :    Oka Antara, Kazuki Kitamura, Luna Maya, Ray Sahetapy
Durasi        :     137 Menit


Thursday, 5 November 2015

The Crossing Part II (2015)


Antiklimaks

Spoiler Alert!!

Setelah film berakhir, pertanyaan yang muncul adalah: Apa memang dibutuhkan dua jilid film yang masing-masing berdurasi dua jam hanya untuk menceritakan kisah ini?

Kita maklum kalau jilid terakhir Harry Potter dan The Twilight Saga harus dipecah jadi dua jilid lantaran alasan komersil. Dan rasanya penonton setia pun masih ingin berlama-lama merasakan hype dua kisah ikonik tersebut.

Kecuali alasan komersil, rasanya memecah The Crossing menjadi dua bagian menjadi bumerang bagi film ini. Di bagian kedua, flashback atau kilasan cerita di bagian pertama cukup menyita durasi. Namun setelah alur kembali maju, yang didapat adalah kisah cinta yang terlalu generik.Tak ada lagi rasa penasaran bagaimana semua tokoh bisa terkait satu sama lain karena cerita dengan mudah ditebak.

Klimaks terjadi saat semua tokoh, kecuali yang diperankan Song Hye Kyo, berada diatas kapal Taiping. Namun sayangnya penonton tak diberi cukup waktu untuk menghayati bagaimana para penumpang malang kapal tersebut menghabiskan detik-detik terakhir mereka. John Woo seharusnya mengorbankan juga sedikit durasi film ini untuk menelusuri setiap jengkal kapal tersebut. Bahkan rasanya tak masalah jika harus memberi tokoh-tokoh tambahan yang hanya ditemui diatas kapal demi membangun empati penonton.

Rasanya adegan tenggelamnya kapal Taiping belum bisa dibandingkan dengan yang ada di Titanic. Jika John Woo mengkhususkan bagian pertama film ini untuk berfokus pada drama perang, maka seharusnya bagian kedua ini cukuplah dihabiskan di atas Taiping saja separuh durasinya. Untuk standar film Asia, adegan tenggelamnya kapal Taiping cukup membuat berdecak. 

Dan akhirnya yang didapat penonton adalah kisah cinta melankolis klise yang cuma dibalut kisah perang dan bencana yang alurnya terlalu mudah ditebak. Penonton dengan mudah menebak siapa yang selamat, siapa yang harus tewas, dan siapa yang menemukan akhir bahagia. 

Namun dengan segala kekurangannya, The Crossing masih cukup menghibur dan mengharu biru bagi para penonton wanita. Anggap saja film Titanic-nya Mandarin.

Hollywoof memberi nilai B

The Crossing Part II patut ditonton karena:

"Sekedar penasaran dengan akhir ceritanya karena terlanjur sudah menyaksikan Part I."


Tuesday, 3 November 2015

The Crossing Part I (2014)


Satu Kapal. Tiga Kisah Cinta

Nama John Woo yang duduk di bangku penyutradaraan sudah cukup membuat kita melirik kisah drama epik yang di gadang-gadang sebagai Titanic-nya film Mandarin. Di barisan bintangnya pun tak tanggung-tanggung ada si cantik bertalenta luar biasa Zhang Ziyi. Ada juga si tampan peranakan Jepang-China yang malang melintang sejak zaman Bobo Ho yaitu Takeshi Kaneshiro. Huang Xiaoming dan Tong Dawei juga berpartisipasi. Bahkan bintang ayu asal Korea Song Hye-kyo pun ikut terlibat disini.

No Tears For The Dead (2014)




Just another crime story

Penggemar film Korea pasti tahu kalau Jang Dong Gun dan Won Bin pernah bermain bersama di Taegukgi yang laris manis secara komersial dan menuai pujian. Nah, dua superstar tersebut yang mengawali karir mereka lewat serial televisi beken itu juga mendapat kesempatan diarahkan oleh sutradara yang sama, Lee Jeong-beom. Won Bin menuai pujian di film laris The Man From Nowhere, dan sekarang giliran Jang Dong Gun di fim NO TEARS FOR THE DEAD. Sayang sekali mereka berdua tidak disatukan lagi dalam satu film, ya.

Baca Juga

Powered by Blogger.

Pengunjung

Sponsor

Hottie of The Month

Hottie of The Month
Klik Foto

HiStats

 

© 2013 Hollywoof! . All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top