Showing posts with label Dark Drama. Show all posts
Showing posts with label Dark Drama. Show all posts

Monday, 13 June 2016

Bates Motel (Season 4) - Awal dari Akhir.




Spoiler Alert!

Season keempat kisah Norma Bates dan kedua putranya ini telah banyak ditunggu penonton yang penasaran akan nasib tokoh-tokoh di dalamnya. Apalagi gencar diberitakan kalau musim kelimanya akan menjadi musim pamungkas kisah adaptasi prekuel film legendaris Psycho ini.

Musim keempat menceritakan dilema Norma yang tak mampu memasukkan Norman ke rumah perawatan khusus penderita penyakit kejiwaan yang mahal, sementara bukti-bukti bahwa Norman mulai membunuh lagi telah ia temukan. Siapa korbannya kali ini?

Namun diantara kegalauannya, Sherif Romero menawarkan solusi jitu. Yaitu menikahinya. Dengan begitu biaya perawatan Norman bisa diatasi oleh asuransi. Kita juga tahu kalau Romero juga menyimpan satu tas berisi uang dari seorang kriminal yang dibunuhnya di musim lalu.

Singkat cerita, Norman akhirnya masuk ke rumah perawatan khusus. Norma bahagia bersama Romero. Dan Dylan dan Emma pun ikut berbahagia. Hingga suatu saat Norman mengetahui kalau ibunya telah menikah lagi. Tak rela cintanya dibagi, Norman berusaha keluar dari rumah perawatan tersebut. Dylan (yang yakin kalau ada korban baru) dan Romero berusaha meyakinkan Norma supaya membuat Norman tetap berada dalam perawatan. Norma Bates pun galau. Kecintaannya yang berlebihan kepada putranya yang mengidap masalah kejiwaan itu akhirnya malah berakibat fatal.

Kisah di musim keempat ini sungguh membuat penonton gregetan. Lapis demi lapis masalah sebenarnya mulai terurai. Penonton sempat mendapat akhir bahagia untuk Dylan dan Emma, dan juga Norma dan Romero. Namun dengan pintarnya, di episode akhir plot berubah menjadi bencana.

Lagi-lagi kita ingin buru-buru menyaksikan musim selanjutnya yang mungkin menjadi musim penutup serial berepisode sepuluh ini. Yang telah menyaksikan Psycho, mungkin berharap akan ada pengulangan-pengulangan adegan fenomenal ala filmnya. Yang hanya menyaksikan serialnya saja mungkin ingin segera menyaksikan bagaimana Norman Bates kena batunya dan membayar semua dosa-dosanya sepanjang empat musim.

A

A must watch.


Wednesday, 2 December 2015

Bates Motel (Season 3) - Dan Semua Kekacauan Pun Dimulai.


Setelah menyusuri cerita Norma, Norman dan Dylan di season 1 dan season 2, cerita keluarga Bates ini makinn rumit dan banyak konflik yang makin menarik.

Norma yang makin curiga dengan kelainan jiwa putranya, Norman, kini terus mengawasi gerak-geriknya. Hingga ketika seorang tamu wanita cantik tiba-tiba menghilang setelah diantar Norman, Norma menjadi kalang kabut mencari tahu nasib tragis sang tamu. Saat ternyata si tamu cantik ditemukan, Norma malah diberi sebuah flashdisk yang isinya akan membuat banyak orang terlibat dalam permainan berbahaya. 

Norma juga sangat ingin menormalkan hidupnya. Maka dari itu dia kembali masuk ke Community College dan bertemu dosen psikologi yang nantinya diharapkannya mampu menolong Norman.

Sementara itu Norman makin menunjukkan gejala sakit jiwa yang gawat. Setelah Caleb, kali ini sang kakak, Dylan, memergoki Norman bertingkah seperti Norma. Puncaknya saat Norman ingin minggat bersama Bradley (Bradley dikisahkan memalsukan kematiannya dengan bantuan Norman dan Dylan di season 2), kepribadian ganda Norman yang berwujud Norma muncul dan menghabisi nyawa Bradley.

Dylan yang merahasiakan kehadiran Caleb, paman sekaligus ayah kandungnya, kini mencoba memperbaiki hubungannya dengan Norma. Mencoba membuat ladang ganja sendiri, Dylan dan Caleb menyadari bahwa yang mereka lakukan tidaklah mudah. Dylan juga mulai dekat dengan Emma yang sebelumnya berpacaran dengan Norman. Bahkan Dylan nantinya akan memberi semua uang modal usahanya untuk biaya pencangkokan paru-paru Emma.

Sherrif Romero yang kini menjadi tokoh reguler di musim ketiga, banyak mendapat tekanan dari pejabat dan pengusaha kotor. Flashdisk yang berada ditangan Norma, ternyata menyeret kembali nama ibu nya. Dengan bantuan Norma, Sherif Romero berusaha menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.

Semua konflik yang dihadirkan di musim ketiga ini saling berkaitan satu sama lain dengan semua tokoh utama. Tentu saja fokus utama adalah kisah Norman yang makin menjadi-jadi penyakit jwanya.

Musim ketiga ini makin solid dan menuai  banyak pujian. Ritme plot yang banyak letupan dan kejutan ditiap episode, makin membuai penonton. Musim ini ditutup dengan adegan Norman yang membunuh Bradley dengan kepribadiannya yang lain yang berwujud sang Ibu, Norma. Tentu saja ini membuat penonton penasaran dengan apa yang terjadi di musiim keempat. Apa Norma akan tewas ditangan Norman seperti kisah aslinya?

Hollywoof gives an A for Bates Motel Season 3.

Friday, 27 November 2015

Bates Motel (Season 2) – It's all about Norman



Melanjutkan cerita di musim sebelumnya (Bates Motel Season1), konflik makin meruncing dengan hadirnya Caleb yang ternyata saudara kandung Norma. Penonton diberi kejutan tentang siapa sebenarnya Caleb, tak lama kemudian. Sementara Norman berkenalan dengan cewek baru, Emma, yang kemana-mana selalu membawa tabung oksigen, bertemu juga dengan cowok lain.

Penyelidikan tentang tewasnya ibu guru Watson masih terus berlangsung. Ayah almarhumah ibu guru Watson ternyata berhubungan dengan bisnis narkoba yang dilakoni Dylan.

Norma yang kali ini beruntung bertemu dengan pria tampan yang jatuh hati dengannya, lagi-lagi harus menomersatukan kedua anak laki-lakinya.

Di penghujung musim, Norman akhirnya sadar dengan apa yang dia lakukan terhadap ibu guru Watson, namun pengaruh sang ibu, Norma, membuat bibit jiwa psikopatnya mulai berkembang.

Musim kedua terlihat lebih solid dengan banyaknya konflik antar tokoh yang membuat cerita lebih menarik. Hadirnya tokoh Caleb yang ternyata ayah kandung Dylan sebenarnya bisa membuat konflik menjadi lebih runcing, namun nampaknya masih disimpan dahulu lantaran Keluarga Bates sudah punya banyak masalah.

Michael Vartan yang beken lewat serial Alias hadir juga memeriahkan konflik yang diketengahkan, namun nampaknya tokoh yang diperankan terkesan numpang lewat saja, atau mungkin ‘disimpan’ juga untuk musim selanjutnya? Semoga saja.

Trio Vera Varmiga, Freddie Highmore dan Max Theiriot masih tetap prima melakoni peran yang mereka bawakan. Akting mereka sangat bagus dan patut mendapat pujian. Sementara disektor plot, Bates Motel masih mempunyai ritme yang sama seperti musim sebelumnya. 

Bates Motel Season 2 masih memikat dan tetap stabil menjaga thrill yang ada sepanjang 10 episode yang dihadirkan.  Dijamin penonton penasaran apa yang terjadi di musim selanjutnya.

Hollywoof! thinks Bates Motel Season 2 deserves an A.

Memorable Scene: Norman menyadari bahwa dialah pembunuh Ibu Guru watson.


Saturday, 21 November 2015

Rush (Season 1) - Not Your Regular Doctor!


Serial dengan tokoh protagonis dokter rasanya sudah bejibun. Dokter-dokter yang baik hati sudah mulai mencuri hati mulai dari jaman ER dan  Grey's Anatomy atau yang kategori kurang beken semisal Off The Map atau Miami Medical juga sudah banyak. Dokter-dokter nyentrik yang anti hero pun banyak yang mendapat tempat dihati pecinta serial TV. Duo dokter bedah plastik di Nip/Tuck atau dr. House yang nyentrik punya penggemar yang tak kalah banyak. Lalu apa yang ditawarkan Rush? Para pemeran yang hot? Tidak juga. Cerita yang unik? Nope. Atau dramalurgi yang menyentuh? Umm...gimana ya. Rasanya susah dijabarkan. Namun dengan formula yang generik dengan medical scenes yang tidak terlalu detil, Rush mampu memikat hati penonton.

Rush berkisah tentang seorang dokter cerdas, Will Rush yang menyebut dirinya free agent lantaran tidak bekerja untuk siapapun dan rumah sakit manapun. Lalu siapa pasiennya? Rush kerap mendapat telepon untuk mengatasi masalah-masalah medis yang high profile dari kaum jet set atau malah mafia. Para klien biasanya menghindari pemberitaan atau pertanyaan-pertanyaan pihak berwajib jika masuk ke rumah sakit biasa. Untuk jasanya ini, Rush di bayar super mahal dengan uang cash.


Rush bukanlah dokter baik hati. Sifatnya yang glamor, anti sosial dan nge-drug apa saja membuatnya susah menjaga hubungan cinta yang langgeng dengan perempuan. Di bantu asistennya yang pandai, Eve, Rush menghabisi minggu demi minggu menerima panggilan medical emergency yang aneh dan berpesta narkoba. Selain Eve, penyeimbang kehidupan sosialnya adalah teman kuliahnya yang telah berkeluarga dan punya anak. Hubungannya dengan sang ayah yang juga dokter hebat pun tak harmonis lantaran sang ayah membenci gaya hidupnya yang urakan.

Rush akhirnya sampai pada mementum yang mengharuskan dia meninggalkan gaya hidupnya, namun apakah semudah yang semua orang bayangkan?

Rush adalah drama besutan stasiun televisi USA yang membidik penonton pria yang menyukai drama bermutu. Karakter yang disodorkon abu-abu dengan ritme cerita yang tidak mendayu-dayu. Walau sedikit soapy di akhir season dengan menampilkan kisah cinta ala sinetron, Rush mampu mempertahankan ritme cerita dengan pas hanya dengan 10 episode saja.

Tom Ellis mampu menghadirkan akting memikat sebagai Rush yang flamboyan. Untuk sebuah character driven story, pria tinggi langsing tampan ini mampu menghadirkan kompleksitas pergulatan batin tokoh dengan karakter unik ini. Konflik yang disajikan juga lumayan santai dan tidak terlalu berlebihan walau Rush selalu digambarkan sebagai penyelamat dalam situasi genting dengan imbalan besar. Sayangnya, suntikan konflik pribadi dalam cerita ini terasa sangat generik. Kisah cinta bad boy with good girl, wild single man vs family man, atau side kick vs angry lover terlalu sering ditampilkan. Untungnya Rush terselamatkan dengan konflik per episode yang unik dengan sokongan tampilan James Ellis yang mempesona.

Rush bukan tontonan medical drama yang luar biasa bahkan tokoh unik ini bukan panutan untuk kita, tapi bukankah sesekali kita memang butuh tokoh yang tidak membosankan dengan dilema moral a la Walter White di Breaking Bad kan?

Hollywoof! thinks this drama deserves a solid B

The pro    :     Handsome doctor with quirky life style
The con    :     Common conflicts


Rush Season 1

Genre              :     Medical Drama
Pemain            :    Tom Ellis, Larenz Tate, Sarah Habe
Durasi per episode    :    43 menit – 10 episode

Wednesday, 18 November 2015

Strangerland (2015) - Oh My God, Ya Ampun, Ugh!



Nicole Kidman adalah aktris papan atas yang kualitas aktingnya tak bisa dipungkiri lagi. Maka jika Strangerland banyak dicaci maki,salahkanlah plotnya yang membuat penonton menunggu sesuatu yang tidak jelas.

Strangerland dari awal sebenarnya mempunyai premis yang generik. Sudah tak terhitung banyaknya film berkisah tentang anak yang hilang. Di setengah jam pertama, penonton disodori kisah tentang pasangan suami istri yang beranak dua remaja. Mereka pindah ke kota kecil ditengah gurun pasir di Australia sana. Saat badai pasir datang, kedua anak pasangan tersebut hilang. Dan pencarian pun dimulai.

Lalu apa yang salah? Proses pencarian yang sangat menjemukan. Selama dua jam penonton diajak mengulik lapis demi lapis setiap tokoh secara psikilogis. Penonton yang terpesona dengan akting berbobot Nicole Kidman, Joseph Fienes, dan Hugo Weaving masih bersabar menunggu akhir cerita apakah kedua anak yang hilang tersebut ditemukan. Sementara penonton yang tak tahan dengan begitu lambatnya plot dan ritmenya yang monoton dipastikan akan menyerah.

Tragisnya, penonton yang sabar tidak diberi imbalan yang setimpal. Tak ada twist ending yang kebanyakan ditunggu. Yang ada adalah kesimpulan yang membuat penonton melongo sambil menyesali hilangnya dua jam akibat menonton film ini.

Dark drama memang tak bisa dinikmati setiap orang. Jika kalian mencari kepuasan dari kualitas akting mumpuni para bintangnya, sinematografi yang luar biasa bagus, dan konflik psikologis tiap tokoh, maka Strangerland adalah pilihan yang tak boleh dilewatkan. Namun jika kalian menyukai drama orang hilang yang penuh twist dan ketegangan dengan akhir cerita mengejutkan, maka hindari film ini.

Hollywoof! memberi nilai C untuk plot, tapi B untuk akting dan sinematografinya.

Strangerland patut ditonton jika tak ada film lain yang bisa ditonton.

Thursday, 29 October 2015

Bates Motel (Season 1)


Selamat Datang di Kehidupan Norman dan Norma Bates!

Pecinta film sejati pastilah mengenal tokoh Norman Bates yang ikonik itu. Pria psikopat ini hadir dalam cerita film karya monumental Alfred Hitchcock berjudul Psycho. Psycho sendiri disebut sebagai pionir genre slasher.

Lalu siapa sebenarnya Norman Bates?
Psycho dan beberapa sekuelnya menggambarkan Norman Bates sebagai pembunuh psikopat yang juga pemilik motel Bates. Norman kerap berpakaian wanita saat membunuh para wanita yang menginap di motelnya. Mengapa?

Yang telah menyaksikan filmnya (atau juga remakenya) pasti telah tahu jawabannya. Namun yang masih awam dengan kisah Norman Bates yang konon ditulis berdasarkan kisah asli pembunuh psikopat sadis Ed Gein ini, tak perlu risau karena serial ini adalah kisah prekuel Psycho dengan sentuhan kekinian yang menelusuri sebab musabab mengapa Norman Bates perlahan menjelma menjadi Si Norman Bates sang Psikopat. Siapa tahu setelah menyaksikan serial ini, anda menjadi tertarik menyaksikan Psycho dan sekuel-sekuelnya.

Norman Bates (Freddie Highmore) harus menyaksikan tewasnya sang Ayah dirumahnya sendiri. Sang Ibu, Norma Bates (Vera Farmiga) kemudian membawa Norman memulai hidup baru di sebuah kota kecil dengan membeli sebuah motel tua dengan uang asuransi kematian sang suami.

Memulai bisnis motel di sebuah kota kecil tanpa sanak-saudara bukanlah perkara mudah. Pemilik motel sebelumnya masih bersikeras mengakui bahwa motel yang sudah turun temurun dimilikinya itu adalah masih miliknya. Hidup ibu dan anak ini makin rumit saat tak sengaja terlibat pembunuhan. Belum usai masalah pembunuhan, Norma harus direcoki dengan anak laki-lakinya yang lain. Lingkaran masalah makin besar saat aparat hukum terlibat dengan semua masalah yang dihadapi Norma dan Norman. Dan tokoh baik dan jahat pun menjadi abu-abu.

Semua pendukung Bates Motel menampilkan kualitas akting yang luar biasa memikat. Pemilihan Freddie Highmore dan Vera Fermiga sebagai pasangan ibu dan anak Norman dan Norma Bates sangat tepat. Kemistri yang dibangun dua bintang ini sangat pas. Mantan aktor cilik Freddie Highmore tak mengalami kesulitan berarti memerankan Norman Bates muda, sementara Vera Farmiga tak perlu dipertanyakan kualitas aktingnya. Wanita ini sangat ekspresif dan begitu cemerlang menghidupi tokoh Norma Bates, sang ibu yang serba salah mengambil sikap menghadapi dua anak laki-lakinya.

Max Thieriot yang screen time-nya sama banyaknya dengan dua pemeran utama juga mampu menjelma menjadi kakak Norman yang sebenarnya tidak ada di versi asli filmya. Thieriot sebelumnya pernah menjadi psikopat juga di film House At The End Of The Street yang meneror si cantik Jennifer Lawrence.


Mike Vogel yang kerap menjadi pemeran utama di beberapa serial semisal Under The Dome atau Miami Medical, kali ini cuma kebagian sebagai bintang tamu. Tapi jangan salah, tokoh yang ia perankan adalah tokoh kunci yang menjadi biang masalah di musim perdana ini.

Bates Motel adalah tontotan drama memikat yang berkualitas. Bahkan jika anda bukan penikmat serial drama sekalipun, Bates Motel dijamin mampu menyita perhatian anda.

Verdict: A+

Bates Motel Season 1 memuat hanya 10 episode saja.

Baca Juga

Powered by Blogger.

Pengunjung

Sponsor

Hottie of The Month

Hottie of The Month
Klik Foto

HiStats

 

© 2013 Hollywoof! . All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top