Showing posts with label Drama Thriller. Show all posts
Showing posts with label Drama Thriller. Show all posts

Monday, 13 June 2016

Bates Motel (Season 4) - Awal dari Akhir.




Spoiler Alert!

Season keempat kisah Norma Bates dan kedua putranya ini telah banyak ditunggu penonton yang penasaran akan nasib tokoh-tokoh di dalamnya. Apalagi gencar diberitakan kalau musim kelimanya akan menjadi musim pamungkas kisah adaptasi prekuel film legendaris Psycho ini.

Musim keempat menceritakan dilema Norma yang tak mampu memasukkan Norman ke rumah perawatan khusus penderita penyakit kejiwaan yang mahal, sementara bukti-bukti bahwa Norman mulai membunuh lagi telah ia temukan. Siapa korbannya kali ini?

Namun diantara kegalauannya, Sherif Romero menawarkan solusi jitu. Yaitu menikahinya. Dengan begitu biaya perawatan Norman bisa diatasi oleh asuransi. Kita juga tahu kalau Romero juga menyimpan satu tas berisi uang dari seorang kriminal yang dibunuhnya di musim lalu.

Singkat cerita, Norman akhirnya masuk ke rumah perawatan khusus. Norma bahagia bersama Romero. Dan Dylan dan Emma pun ikut berbahagia. Hingga suatu saat Norman mengetahui kalau ibunya telah menikah lagi. Tak rela cintanya dibagi, Norman berusaha keluar dari rumah perawatan tersebut. Dylan (yang yakin kalau ada korban baru) dan Romero berusaha meyakinkan Norma supaya membuat Norman tetap berada dalam perawatan. Norma Bates pun galau. Kecintaannya yang berlebihan kepada putranya yang mengidap masalah kejiwaan itu akhirnya malah berakibat fatal.

Kisah di musim keempat ini sungguh membuat penonton gregetan. Lapis demi lapis masalah sebenarnya mulai terurai. Penonton sempat mendapat akhir bahagia untuk Dylan dan Emma, dan juga Norma dan Romero. Namun dengan pintarnya, di episode akhir plot berubah menjadi bencana.

Lagi-lagi kita ingin buru-buru menyaksikan musim selanjutnya yang mungkin menjadi musim penutup serial berepisode sepuluh ini. Yang telah menyaksikan Psycho, mungkin berharap akan ada pengulangan-pengulangan adegan fenomenal ala filmnya. Yang hanya menyaksikan serialnya saja mungkin ingin segera menyaksikan bagaimana Norman Bates kena batunya dan membayar semua dosa-dosanya sepanjang empat musim.

A

A must watch.


Wednesday, 2 December 2015

No Escape (2015) - Wrong Time. Wrong Place.


Premis No Escape sebenarnya tak terlalu istimewa. Kita telah banyak disodori film-film eksyen tentang seseorang (atau dua orang) yang berada di tempat dan waktu yang salah. Lalu orang tersebut harus bertahan hidup dengan segala upaya dan membuatnya menjadi pahlawan. No Escape kurang lebih punya plot seperti itu. Tapi, ada tapinya..seseorang tersebut adalah seorang ayah dan ibu dan kedua putri kecilnya yang harus mencari selamat di sudut kota di Asia Tenggara lantaran para pemberontak ala preman brutal tidak mengenal ampun membunuh para bule Amrik yang mereka temui. Gimana? Tertarik menontonnya?

Jack dan Annie Dwyer dan kedua putri mereka yang masih kecil baru saja menginjakkan kaki di sebuah negara di Asia Tenggara. Belum lagi habis lelah mereka setelah belasan jam di pesawat, mereka mendapati bahwa orang-orang perusahaan yang seharusnya menjemput mereka tak menampakkan batang hidungnya. Sesampai di hotel pun, Pria yang bakalan menjabat di perusahaan air minum di negara tersebut merasa jengkel karena siaran televisi, internet dan sambungan telepon tak ada sama sekali. Ada apa gerangan?

Jack baru mendapati jawabannya keesokan harinya saat harus keluar hotel hendak membeli koran di luar hotel. Apa jadinya jika ternyata para pemberontak ternyata membunuh Perdana Mentri negri itu dan membantai semua bule yang ada?

Yang terjadi mungkin sudah bisa ditebak, kita akan melihat Jack pontang-panting menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari kejaran para pemberontak yang keji dan kenal ampun.
Banyak kritikus yang menyebut film ini rasis karena pemberontak yang mengejar para bule digambarkan sangat one dimensional. Tapi ini sama sekali tidak terbukti jika kita mengikuti cerita dari awal hingga  akhir. Yang digambarkan keji dan kejam adalah para pemberontak yang geram dengan pemerintahan yang telah menjual aset negara kepada investor asing. Tokoh Jack Dwyer tidak tahu sama sekali mengapa dia dan keluarganya menjadi sasaran karena dia hanya pegawai perusahaan biasa.

One dimensional characters pada para pemberontak sangat menguntungkan penonton yang tak perlu repot-repot menelaah cerita yang tidak perlu dipolitisir terlalu berlebihan. Memang nanti akan ada penjelasan oleh tokoh yang diperankan Pierce Brosnan, namun fokus penonton tetap pada usaha penyelamatan diri Jack Dwyer dan anak istrinya.

Owen Wilson nampak sangat menjiwai perannya. Tokoh ayah yang diperaninya tidak terlalu heroik sehingga membuat karakter Jack Dwyer menjadi sangat pas. Mungkin inilah film pertama dimana dia memerankan peran serius, dan mengesankan` Lake Bell yang memerankan Annie Dwyer, sang istri, juga patut mendapat pujian.

Veteran 007, Pierce Brosnan sayangnya mendapat screen time sedikit, dan muncul menjadi penyelamat. Sangat disayangkan, memang. Namun ternyata malah membuat fokus kita terhadap keluarga Dwyer menjadi tidak terpecah.

No Escape adalah film eksyen yang mampu membuat penonton tercekam tanpa harus banyak ledakan dan bacok-bacokan tanpa juntrungan. Cukup dengan ritme cerita yang tepat dan plot sederhana tanpa membuat penonton banyak berpikir keras, No Escapa mampu membuat kita terengah-engah sepanjang durasi. Tontonlah.

Hollywoof! memberi nilai A-

Memorable Scene:
Saat Jack melempar satu persatu putrinya dari atap gedung ke atap gedung lainnya, sementara sang istri harus menyambutnya.

Scene Stealer:
Kenny Rogers. Lol


Friday, 27 November 2015

Bates Motel (Season 2) – It's all about Norman



Melanjutkan cerita di musim sebelumnya (Bates Motel Season1), konflik makin meruncing dengan hadirnya Caleb yang ternyata saudara kandung Norma. Penonton diberi kejutan tentang siapa sebenarnya Caleb, tak lama kemudian. Sementara Norman berkenalan dengan cewek baru, Emma, yang kemana-mana selalu membawa tabung oksigen, bertemu juga dengan cowok lain.

Penyelidikan tentang tewasnya ibu guru Watson masih terus berlangsung. Ayah almarhumah ibu guru Watson ternyata berhubungan dengan bisnis narkoba yang dilakoni Dylan.

Norma yang kali ini beruntung bertemu dengan pria tampan yang jatuh hati dengannya, lagi-lagi harus menomersatukan kedua anak laki-lakinya.

Di penghujung musim, Norman akhirnya sadar dengan apa yang dia lakukan terhadap ibu guru Watson, namun pengaruh sang ibu, Norma, membuat bibit jiwa psikopatnya mulai berkembang.

Musim kedua terlihat lebih solid dengan banyaknya konflik antar tokoh yang membuat cerita lebih menarik. Hadirnya tokoh Caleb yang ternyata ayah kandung Dylan sebenarnya bisa membuat konflik menjadi lebih runcing, namun nampaknya masih disimpan dahulu lantaran Keluarga Bates sudah punya banyak masalah.

Michael Vartan yang beken lewat serial Alias hadir juga memeriahkan konflik yang diketengahkan, namun nampaknya tokoh yang diperankan terkesan numpang lewat saja, atau mungkin ‘disimpan’ juga untuk musim selanjutnya? Semoga saja.

Trio Vera Varmiga, Freddie Highmore dan Max Theiriot masih tetap prima melakoni peran yang mereka bawakan. Akting mereka sangat bagus dan patut mendapat pujian. Sementara disektor plot, Bates Motel masih mempunyai ritme yang sama seperti musim sebelumnya. 

Bates Motel Season 2 masih memikat dan tetap stabil menjaga thrill yang ada sepanjang 10 episode yang dihadirkan.  Dijamin penonton penasaran apa yang terjadi di musim selanjutnya.

Hollywoof! thinks Bates Motel Season 2 deserves an A.

Memorable Scene: Norman menyadari bahwa dialah pembunuh Ibu Guru watson.


Saturday, 21 November 2015

Wicked Blood (2014) - Thicker Than Blood


Apa jadinya jika dua gadis bersaudara yatim piatu harus terperangkap hidup dengan dua paman yang terlibat narkoba?

Amber (Alexa Vega) dan Hannah ( Abigail Breslin) adalah dua bersaudara yatim piatu. Amber harus bekerja sebagai pelayan di sebuah diner sementara Hannah masih harus bersekolah. Paman Donny, saudara ayah mereka, tinggal disebuah rumah kotak kumuh. Donny pecandu narkoba yang setiap hari kerjanya menyuntikkan jarum ke lengannya. Namun anehnya Hannah tetap sayang dan tetap merawatnya. Sebaliknya, Paman Frank, saudara ibu mereka, dia seorang bandar narkoba besar di tempat itu yang tak tersentuh aparat hukum.

Hannah berkeinginan mencari uang tambahan dengan menawarkan diri ke Paman Frank sebagai kurir mereka. Berkilah jika polisi tak akan mencurigai remaja SMA bersepeda sebagai kurir narkoba, Paman Frank setuju saja.

Lain halnya Amber, Wanita ini bertemu pria simpatik, Bill, di diner tempat dia bekerja. They fell in love. Yang tak Amber ketahui adalah Bill merupakan salah satu dealer Paman Frank. Tentu saja Hannah sering bertemu dengan Bill dan sifat Bill yang ramah membuat  Hannah dan Bill menjadi akrab dan berteman.

Hingga suatu hari terjadi friksi antara Bill dan Frank, pertumpahan darah pun terjadi. Kemudian, anak buah Frank, Bobby, mengetahui jika Amber adalah kekasih Bill dan melakukan hal buruk pada Amber. Hannah tidak tinggal diam, gadis remaja ini melakukan hal yang tak pernah dibayangkan orang sebelumnya.

Barulah nanti terungkap sebenarnya apa motivasi Hannah menjadi kurir dan siapa sebenarnya Bill. Di menit-menit terakhir, klimaks terjadi antara Bill dan dua paman Hannah itu.
Wicked adalah drama yang tidak terlalu berambisi besar. Menilik pemainnya yaitu Alexa Vega, Abigail Breslin, Sean Bean, dan James Purefoy, memang sudah familiar dengan para pecinta film. Namun ke empat nama tersebut diyakini belum mampu mengangkat film drama lambat ini. Sadar diri akan susahnya meraup penonton, Wicked Blood cukup puas dengan hanya menjadi film straight to DVD saja.

Namun harus diakui, kelima pemeran utama film ini bermain sangat bagus. Sean Bean yang jam terbangnya tinggi seolah tak perlu bersusah payah memerankan bandar narkoba berperangai dingin. Alexa Vega yang dulu masih imut di Spy Kid, kini makin cantik, mampu memerankan sosok kakak yang sering memarahi adiknya namun sebenarnya sayang. Lew Temple yang memerankan paman Donny sang pecandu juga cukup menjiwai perannya. Sementara James Purefoy tetap solid berperan sebagai Bill, tokoh misterius yang menjadi kunci cerita ini. Dan tentu saja, Abigail Breslin adalah nyawa film ini. Tokohnya tak hanya menjadi segala sumber konflik dalam plot, namun cerita film ini juga dinarasikan oleh Hannah dengan puisi-puisi beraroma permainan catur. Abigail Breslin yang mantan bintang cilik ini mampu menjiwai semua kegalauan dan penderitaan si cilik Hannah yang harus dia tanggung sendiri. Mungkin banyak yang setuju jika ini merupakan one woman show untuk Abigail Breslin.

Wicked memang bertempo lambat. Namun klimaks film ini seolah membayar semua kesabaran penonton yang mungkin telah memejamkan satu mata di 30 menit pertama. Drama ini tak berisi cerita yang membuat kita meneteskan airmata atau kesal dan mengutuk antogonisnya. Wicked cukup bersahaja dengan cerita tokoh gadis belia tangguh yang harus menanggung masalah besar sementara gadis-gadis seusianya bebas bergembira di luar sana. Patut ditonton jika anda bosan dengan film-film besar yang bersliweran tiap minggu dibioskop.


Hollywoof! memberi nilai: B-

Memorable Scene: Hannah with the granade

Genre        :    Drama
Sutradara    :    Mark Young
Penulis     :    Mark Young
Pemain       :    Abigail Breslin,  Alexa PenaVega, Sean Bean
Durasi        :    92 menit



Friday, 20 November 2015

Coldwater (2013) - We will re-adjust you!


Brad yang sedang terlelap di kamarnya tiba-tiba dibangunkan oleh dua pria tegap yang mirip tentara. Remaja tanggung ini di paksa masuk kedalam van disaksikan oleh ibu kandungnya yang terisak. Esok paginya Brad dilempar keluar dari van bersama beberapa remaja pria lainnya di sebuah kawasan terisolir yang dijaga ketat oleh pria-pria tegap lainnya.

Ternyata Brad di bawa ke sebuah camp rehabilitasi berbasis militer lantaran orang tuanya sudah tak sanggup lagi menangani kebengalan dan sikap buruknya tersebut. Di Amerika ada banyak akademi non formal semacam pusat rehabilitasi yang dikelola pensiunan militer yang bertujuan membentuk mental anak-anak remaja yang salah langkah. Para orang tua rela membayar sejumlah uang untuk meluruskan tingkah laku anak mereka dengan mengirimnya kesana. Jika Juvie Detention dikelola pemerintah dan lebih semacam penjara anak-anak dengan masa hukuman yang jelas, maka camp rehabilitasi ini punya masa pembentukan yang berbeda untuk tiap individu yang dikirim kesana.

Lewat adegan flashback sepanjang film, penonton diberi tahu mengapa Brad harus dikirim ke tempat semacam ini. Brad bekerja di sebuah bengkel bersama teman karibnya Gabriel. Untuk menambah uang saku, Brad nyambi menjadi pengedar narkoba. Hubungannya dengan sang ibu dan calon ayah tirinya tidak harmonis, sementara sang pacar juga tidak ingin Brad melakukan pekerjaan haram itu lantaran banyak resikonya. Suatu malam di pesta, terjadilah peristiwa tragis yang bahkan Brad sendiri merasa pantas dikirim ke camp yang akan merubah jalan hidupnya.

Hari-hari Brad di dalam camp rehabiltasi sangat melelahkan. Di gembleng ala tentara, Brad bersama rekan-rekannya harus lari dan mencangkul tiap hari, makan dan minum terbatas, bahkan terkadang menerima siksaan yang tidak manusiawi. Perlahan Brad melihat sesuatu yang tidak beres di tempat ini. Pemimpin yang di panggil kolonel, seorang pensiunan tentara, bertindak semena-mena tanpa belas kasihan. Bahkan saat seorang remaja, Jonas, tertabrak kendaraan, pihak camp mengobati seadaanya. Parahnya lagi, walau kaki Jonas masih luka, dia dipaksa lari dan disiksa. Akibatnya kaki remaja malang itu mengalami infeksi dan harus di amputasi.

Brad mencoba melarikan diri, bahkan mengadu ke sherif setempat. Namun apa daya, karena tidak ada bukti kuat maka Brad harus di kembalikan lagi ke tempat yang seperti neraka itu baginya. Siksaan demi siksaan dialaminya dan mau tak mau dia harus beradaptasi dan mengikuti irama hidup di camp ini entah untuk berapa lama.

Masalah mulai timbul lagi saat teman karibnya dulu, Gabriel ikut masuk dalam camp ini. Dua remaja yang dulu bersahabat karib ini menjadi musuh bebuyutan. Gabriel membangkang diatur oleh Brad yang kini menjadi pimpinan regu. Dan sebuah tragedi memilukan membuat Brad mengatur siasat agar kebusukan di camp ini tercium aparat. Lalu bagaimana nasib Brad saat terjadi pembunuhan masal di camp Coldwater ini terjadi? Siapa saja yang menjadi korban? Bagaimana persahabatannya dengan Gabriel selanjutnya?

Coldwater adalah film drama thriller diluar tipikal film Hollywood kebanyakan. Ritme cerita yang lambat namun menegangkan membuat adegan demi adegan miris yang disodorkan membuat penonton terenyuh. Sutradara begitu cerdas menyelipkan adegan-adegan flashback Brad disela-sela cerita 'pelatihan' ala tentara di camp Coldwater. Cerita begitu efektif diketengahkan karena tak ada nama besar di film ini. Aktor muda tampan pendatang baru P.J Boudousque pernah tampil sekilas di serial hit Bones dan American Horror Story tampil sempurna dengan wajah tampan dan tubuh tingginya sebagai Brad Lunders. Wajah dan perawakannya mirip sekali dengan Ryan Gosling muda. Rasanya tak perlu waktu lama bagi P.J Boudousque untuk menjadi bintang besar jika pilihan film yang ditawarkan padanya sebaik pilihan film-film drama Ryan Gosling.


Coldwater berisi adegan-adegan penyiksaan yang cukup berdarah-darah yang membuat penonton ngilu, jadi siapkan mental anda sebelum menyaksikan film yang menyabet piala di Las Vegas Film Festival. Ending yang ditawarkan film ini begitu cerdas dan membuat penonton terus berpikir setelah film usai bagaimana nasib Brad selanjutnya.

Terlepas dari tuduhan adanya agenda tersembunyi untuk merusak reputasi camp rehabilitasi a la pendidikan militer di sana, Coldwater adalah film yang luar biasa. Sinematografi yang jempolan, akting bintang-bintang baru tapi super cemerlang, dan music score yang minim namun efektif dengan ritme cerita yang penuh suspense membuat film ini menuai banyak pujian. Bagi anda yang menyukai film dengan cerita berkualitas yang menentang derasnya mainstream Hollywood, cobalah Coldwater. It is really worth your time

Hollywoof! thinks COLDWATER deserves a solid A+

Memorable scenes:
Saat kita berpikir film telah usai, kita disodori lagi flashback yang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Brad dan Colonel. Juga adegan saat Brad crying in the shower. So emotional and touching.

Coldwater
Genre        :    Drama
Sutradara    :    Vincent Grashaw
Penulis        :    Vincent Grashaw
Pemain        :    P.J Boudousque, Chris Petrovski
Durasi        :    105

Tuesday, 17 November 2015

The Visit (2015) - Sebuah 'Kunjungan' Membingungkan Karya Shyamalan

Nama M. Night Shyamalan terbukti masih bisa menjual sebuah film. Namanya selalu terpampang di setiap poster filmnya dengan rentetan film-film bagus garapannya sebagai referensi. Prestasinya dalam meramu film horor dan thriller dengan bumbu twist ending terkadang mengundang pujian, namun tak jarang juga mengundang cacian. Setelah menggarap serial berepisode 10 yang dibintangi Matt Dillon, Wayward Pines, Shyamalan kembali ingin menakut-nakuti penonton dengan gaya found footage. Found footage sendiri (buat yang belum tahu) adalah teknik semi dokumenter dimana sudut pandang penonton berasal dari kamera amatir yang dipegang pemeran utama. Tekhnik ini sebenarnya sangat tidak mengenakkan ditonton. The Blair Witch Project, Cloverfield atau Paranormal Activity memakai teknik yang sama dan hasilnya: membuat pusing kepala penonton.

Kembali lagi ke The Visit ya, premis yang disuguhkan sebenarnya sangat menjanjikan. The Visit berkisah tentang seorang ibu yang lama tak berjumpa orang tuanya. Setelah mereka bertemu lagi lewat internet, sang ibu mengirim dua anak remajanya bertemu dengan kakek nenek mereka yang belum pernah mereka jumpai. Awalnya, dua kakak beradik ini cukup menikmati pengalaman mereka, namun perlahan mereka menemukan hal-hal aneh tentang kakek nenek mereka. Hingga klimaksnya mereka menemukan fakta mengejutkan saat semua hampir terlambat.

Dengan premis menjanjikan seperti itu, seharusnya The Visit menjadi film horor yang berpeluang digemari penonton. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Teknik found footage yang sudah membuat kepala pusing itu dibalut dengan naskah yang kurang matang. Sebaiknya kita salahkan Shyamalan yang duduk dikursi sutradara dan penulis naskah karena nampaknya sineas ini gamang menentukan apakah The Visit akan menjadi horor tegang, atau horor komedi. Jika ingin menjadi horor menegangkan, Shyamalan nampak ragu-ragu menyajikan adegan-adegan mengerikan. Jika ingin menjadi horor komedi, maka Shyamalan tidak berhasil menyelipkan dialog-dialog lucu di dalamnya.
Beberapa adegan yang sebenarnya mampu memicu ketegangan ke level lebih tinggi nampak begitu disia-siakan. Ambil contoh saat sang nenek menyuruh cucu perempuannya membersihkan oven, atau saat sang nenek yang entah sengaja atau tidak menutupi kamera laptop mereka dengan adonan kue yang sukar dibersihkan. Adegan-adegan pemicu ketegangan tersebut tak ditindaklanjuti dengan baik. 

Dan saat twist yang ditunggu-tunggu datang, yang terjadi malah antiklimaks sehingga tidak menolong menghilangkan kebosanan penonton akibat terlalu lama menunggu jumpscare.

M. Nigh Shyamalan memang berhasil membuat banyak orang berduyun-duyun membeli tiket untuk menonton The Visit lantaran  trailernya yang menjanjikan. Namun nampaknya banyak yang kecewa saat menyaksikannya di bioskop.

The Visit bisa jadi disejajarkan dengan Knock Knock yang mungkin mendapat gelar horor thriller terburuk di tahun 2015 ini.

Hollywoof! memberi nilai C-

The Visit layak ditonton jika penasaran dengan semua karya M. Night Shyamalan yang menurut kalian patut ditonton.


Friday, 13 November 2015

Runner Runner (2013) - If you're risking something, that means you're gambling.


Justin Timberlake memang musisi handal yang digilai banyak penggemar dan album-albumnya laris manis. Namun sebagai bintang film, tajinya belum begitu tajam. Memang beberapa tahun terakhir suami Jessica Biel ini banyak bermain di banyak film dengan genre beragam, tapi tetap saja JT belum begitu banyak mengesankan banyak penggemar film.

Ben Affleck sudah malang melintang di dunia perfilman Hollywood sejak lama, bahkan pernah tercatat sebagai bintang termahal yang digilai banyak penggemar. Mahir membuat skenario, pandai berakting dan karyanya sebagai sutradara pun banyak dipuji orang. Lalu apakah duetnya dengan Justin Timberlake ini menuai pujian?

Runner Runner berkisah tentang Richie Furst (Justin Timberlake) yang pernah bekerja di Wall Street yang kini mengambil gelar masternya di Princeton. Karena tak bisa mendapat beasiswa, Furst membiayai kuliahnya dengan memfasilitasi mahasiswa lain untuk berjudi secara online, dengan begitu dia mendapat komisi. Namun karena ada mahasiswa yang bangkrut yang mengadu, Furst mendapat teguran dari pihak universitas yang mengancam akan mengeluarkannya jika masih tetap menjalankan bisnis tersebut. Jalan terakhir yang bisa dilakukan pria ini adalah berjudi poker online dengan semua sisa uang kuliah yang dia punya. Malangnya, dia kehilangan semua uangnya karena kalah dengan seorang pemain yang curang. Dan Furst tahu jika dia dicurangi karena dia bisa membuktikannya secara statistik.

Tak ada pilihan lain, Furst berangkat ke Costa Rica untuk bertemu Ivan Block (Ben Affleck) pria kaya raya yang mengelola website judi online itu. Dengan membeberkan bukti-bukti ilmiahnya, Block malah tertarik merekrut Furst untuk bekerja di website judi yang dikelolanya. Merasa akan berada di dunia kerja yang ia impikan, Furst menerima tawaran Block.

Awalnya Furst merasakan dunia kerja yang menyenangkan. Namun perlahan, Furst mulai melihat sisi gelap Ivan Block yang menghalalkan segala cara bak mafia besar dalam menjalankan bisnisnya. Furst pun merasa terjebak dengan kehidupan glamor yang awalnya tampak begitu menyenangkan. Parahnya lagi, polisi setempat mulai mencium bisnis Ivan Block yang penuh hal-hal tidak etis itu. Hingga akhirnya Richie Furst terjebak tidak bisa meninggalkan Costa Rica sementara dia juga menjadi incaran polisi. Adu saling pintar-pintaran antara dua pria tampan dan pintar ini pun dimulai. Lalu siapa yang akan menang dan keluar dari jeratan hukum?

Sejatinya Runner Runner bukan film yang buruk, tapi untuk sebuah film yang digadang-gadang sebagai drama thriller adu cerdas, film ini tidak ada gregetnya sama sekali. Justin Timberlake tidak meyakinkan sebagai Richie Furst yang pintar. Menutup dada bidangnya dan perutnya yang kotak-kotak sepanjang film dengan balutan kemeja tetap tak membuat penonton yakin dengan aktingnya. Padahal JT pernah tampil baik di The Social Network yang mengharuskannya berperan sebagai pendiri website ternama juga. Juga, performanya di romcom Friends With Benefits sangat menyegarkan, tentunya dengan memamerkan tubuh bugarnya. Disandingkan dengan Ben Affleck yang lebih tua umurnya, Justin Timberlake pun seperti kehilangan pesonanya secara fisik. Ben Affleck terlihat lebih besar, tampan, tinggi dan dengan sex appeal yang lebih wow.

Sesungguhnya bagi Ben Affleck, perannya sebagai Ivan Block tak memberi banyak pengaruh bagi masa depan karirnya di Hollywood. Telah mantap sebagai sutradara terpuji, penulis naskah film peraih oscar dan membintangi banyak film laris, bahkan akan menjadi Batman di Superman vs Batman: Dawn of Justice yang banyak ditunggu itu, film ini terasa sebagai selingan saja baginya. Aktingnya terasa standar: tidak bisa dibilang bagus, namun tidak bisa dibilang jelek juga.

Yang paling menggangu adalah Gema Arterton. Bermodal wajah cantik dan membintangi film laris seperti Prince of Persia dan Clash of The Titans, Gema Arterton jelas hanya hiasan saja di film ini.

Plot Runner Runner yang awalnya dikira banyak penonton akan membahas judi poker online dengan segala intriknya malah berbalik menjadi klise dengan tema newbie vs the bad mentor dengan bumbu cinta yang mudah ditebak.

Justin Timberlake  tempatnya memang harus dipanggung. Jika harus di layar lebar, film dengan tema ringan yang memungkinkannya untuk tidak berbaju nampaknya lebih cocok, dan jangan lupa memberi lawan main aktor pria yang tidak lebih keren darinya. Aktingnya memang tidak buruk, namun butuh penjiwaan yang lebih mantap untuk bermain film serius. Sementara Ben Affleck, oh man, dia bisa melakukan apa saja tanpa perlu dipuji atau di caci karena dia Ben Affleck: Pria besar, tinggi, tampan beristri si cantik Jennifer Gardner, yang multi talenta yang membuat iri banyak penghuni Hollywood. Runner Runner baginya hanya pengisi waktu sambil menunggu proyek besar lainnya.

Hollywoof! memberi nilai C+

Memorable Scene: Saat Ivan Block menyadari kalau dia kalah cerdik dengan anak didiknya, and that means the movie is about to end.

Runner Runner

Genre        :     Drama
Sutradara    :     Brad Furman
Naskah        :     Brian Koppelman
Pemain        :     Ben Affleck, Justin Timberlake
Durasi         :    91 menit

Thursday, 12 November 2015

Captive (2014) - Without A Trace




Matthew Lane mengajak anak perempuannya yang berumur 10 tahun, Cassandra, untuk Mampir ke toko pie seusai latihan ice skating. Matt turun dari truknya, meninggalkan Cassandra sendirian di dalam truk. Tak lebih dari lima menit Matt membuka pintu truknya dan tak menemukan bocah perempuan lucu itu. Hilangnya Cassandra membuat rumah tangga Matt dan sang istri renggang. Sang istri terus menyalahkan Matt, sementara divisi khusus orang hilang kepolisian Canada malah mencurigai Matt sebagai dalang atas hilangnya Cassandra. Hingga delapan tahun kemudian, detektif dan timnya menemukan tanda-tanda jika Cassandra masih hidup dan malah menjadi anggota kelompok penculikan anak lewat internet.

Premis tentang orang hilang, terutama anak-anak, sudah sering kita saksikan. Terakhir kita melihat adu akting memukau Jack Gylenhaal dan Hugh Jackman di Prisoners yang mencari tahu keberadaan bocah hilang di depan rumah saat bermain. Ada dua kemungkinan untuk film dengan premis misteri orang hilang ini, pertama film akan sangat dramatis dan menguras kemampuan akting aktor dan aktris pemeran orang tua. Kedua, plot film akan sangat cerdas mengajak penonton mencari tahu siapa pelaku penculikan. Sayangnya, Captive hanya memenuhi kemungkinan pertama saja.

Ryan Reynolds yang penah dinobatkan sebagai pria terseksi versi majalah hiburan terkemuka itu mampu menampilkan akting prima sebagai seorang ayah yang kehilangan anak namun dicurigai sebagai pelaku. Kebingungan dan kegeraman bisa ia tampilkan dengan baik sepanjang film dengan tampilan kusut penuh brewok. Mireili Enos yang mendapat award lewat serial The Killing pun bisa menampilkan akting yang prima sebagai istri yang terus menyalahkan sang suami atas hilangnya anak mereka. Sementara Scott Speedman dan Rosario Dawson juga mampu menyelami peran sebagai duo detektif yang memecahkan kasus ini.

Dan yang salah adalah plotnya. Ritme yang lambat, motif penculikan yang tidak jelas dan misteri yang sudah di bongkar di awal cerita adalah biang kerok mengapa film ini dicibir saat tayang perdana di Festival Film Cannes. Saat film usai, semua orang menyoraki ‘boo’ kepada semua pemain yang hadir termasuk Ryan Reynold yang langsung meninggalkan gedung. Tentu saja cibiran itu bukan untuk akting bintang-bintangnya. Cibiran ini ditujukan untuk sang sutradara Atom Egoyan yang terlalu berambisi dengan jalan cerita namun malah menjadi aneh. Padahal Egoyan adalah sineas yang karya-karyanya kerap dinominasikan di ajang piala Oscar.


Tak bisa dipungkiri, penonton memang dibuat bingung dengan jalan cerita yang maju mundur ‘tanpa pemberitahuan’. Belum lagi motif penculikan yang tidak terkuak hingga akhir cerita. Di tambah keinginan para penculik yang ingin terus memonitor orang tua sang anak dengan memasang kamera dimana-mana, bahkan di rumah detektif sekalipun. Sungguh mengecewakan penonton yang sedari awal penasaran dan dibuat geram dengan pelaku yang ternyata sangat dekat dengan semua tokoh dalam film. Mungkin hanya penulis cerita yang mampu menjabarkan segala kebingungan penonton itu. Yang jelas, film dengan review negatif ini telah menyia-nyiakan kemampuan akting bintang-bintangnya dengan naskah yang belum matang itu.

Memorable scene: Saat Matt (Ryan Reynolds) dengan wajah tak percaya bercampur emosi bertemu lagi Cassandra yang sudah besar, delapan tahun kemudian. Namun penonton sudah tahu dari awal jika Cassandra tidak kemana-mana. Ugh

Hollywoof! memberi nilai: C-

CAPTIVE
Genre        :    Drama
Sutradara    :    Atom Egoyan
Penulis        :    Atom Egoyan
Pemain        :    Ryan reynold, Scott Speedman, Rosario Dawson
Durasi        :     140 Menit


Wednesday, 11 November 2015

Devil's Knot (2013) - The Truth Is Out There



Atom Egoyan belum bosan mengangkat masalah missing kids. Kalau sebelumnya sutradara ini menggaet Ryan Reynolds dan Scott Speedman untuk memecahkan kasus anak perempuan yang hilang di Captives, kali ini Egoyan tak main-main menjual dagangannya dengan memasang sekaligus dua peraih oscar yang terbilang masih muda yaitu Colin Firth dan Reese Witherspoon.

Devil's Knot mencoba bermain-main dengan emosi penonton, khususnya orang tua yang memiliki anak dengan mengangkat kisah nyata misteri hilangnya tiga bocah laki-laki di Memphis Barat yang terjadi di tahun 90an. Film dibuka dengan cerita Pam Hobbs (Reese Witherspoon) yang menjemput anak laki-lakinya dari sekolah. Bocah bernama Stevie itu kemudian bepamitan untuk bermain sepeda bersama dua temannya sesampai dirumah. Tiga bocah ini bermain terlalu jauh menyebrangi sungai dan masuk ke dalam hutan. Hingga malam menjelang mereka pun tidak pulang sehingga para orang tua pun kebingungan. Di tempat yang berbeda, disebuah restauran siap saji juga terjadi sedikit keganjilan. Seorang pria berkulit hitam yang berlumuran darah masuk ke kamar mandi, namun setelah dilaporkan ke polisi oleh manager restauran, pria tersebut hilang secara misterius.


Pencarian ketiga bocah itu pun di mulai esok harinya. Polisi menyisir semua neighborhood dan hingga sampai ke hutan tempat ketiga bocah itu terakhir terlihat. Dan pencarian pun berakhir saat salah seorang polisi akhirnya menemukan mayat mereka di dasar sungai dengan kondisi mengenaskan. Sontak warga sekitar heboh dan pencarian pembunuh tiga bocah malang itu dimulai.

Hasil investigasi intensif mengarah ke tiga remaja belasan tahun yang diduga pembunuhnya. Lalu apa benar tiga bocah tersebut tewas sebagai tumbal pemujaan setan? Apa hubungan pria berkulit hitam yang berlumuran darah di restoran siap saji tadi dengan pembantaian tersebut? Lalu apa yang terjadi saat Pam Hobbs malah menemukan bukti bahwa pembunuh anaknya mungkin adalah orang terdekatnya? Dan apa yang terjadi saat seorang penyidik berhasil menguak jika banyak kesaksian dalam pengadilan banyak yang tidak singkron dengan yang ada di lapangan?

Atom Egoyan dengan cara yang implisit menyuruh penonton mengintepretasi sendiri kemungkinan-kemungkinan yang dia coba sodorkan lewat potongan-potongan adegan saat tokoh yang dimainkan dengan baik oleh Colin Firth mencoba menguak misteri pembunuhan yang banyak kejanggalan ini. Penonton dibuat ikut terlibat menebak-nebak siapa pembunuh sebenarnya, meski memang di akhir kisah (dan di kisah nyatanya) pelaku sudah tertangkap. Namun sineas ini ingin kembali mengapungkan keraguan tentang siapa pelaku sebenarnya dan kemungkinan aparat menghukum orang-orangan yang tak bersalah. Penemuan pisau di loteng, tali sepatu Stevie yang lepas dan pria misterius di restauran atau bahkan prilaku ayah korban seolah menjadi bukti yang walau lemah tetap menjadi kemungkinan-kemungkinan yang hingga saat ini belum terjawab. Namun mampu menghantui pikiran  penonton hingga film usai.


Colin Firth dan Reese Witheespoon tak perlu diragukan aktingnya. Sayangnya, film ini seperti tak punya fokus utama hingga eksplorasi setiap karakter tidak begitu dalam. Begitu pula ritme dan tensi yang ditampilkan tidak begitu menggigit untuk sebuah court drama dengan balutan misteri, padahal 30 menit pertama penonton sudah dibuat tercekam dengan narasi dan adegan saat tiga bocah ini bersepeda. Dekade 90an belum begitu lama, namun entah mengapa era tersebut seolah dibuat begitu old school di film ini. Dan yang sedikit janggal adalah timeline yang sering tidak diberikan ke penonton, sehingga penonton awam sedikit kebingungan. Kisah ini sendiri bisa dibilang adalah dramatisasi dari versi dokumenter yang sukses di buat HBO ditahun 2012 saat para pelaku akan segera menghirup udara bebas. Jika anda menginginkan kisah yang akurat dengan fakta2 yang dibeberkan, versi dokumenternya adalah pilihan yang tepat. Dan Devil's Knot hanya berupa intepretasi yang berusaha merekam peristiwa tersebut dengan sinematografi yang menawan dan akting jempolan para bintangnya. Good job, Egoyan.

Hollywoof! memberi nilai B

Memorable scene: Adegan diawal cerita saat Stevie bernyanyi lagu country sambil dituntun ibunya cukup menyentuh, apalagi setelah nanti kita tahu jika bocah malang itu akan tewas mengenaskan.

Devil's Knot
Genre              :           Drama
Sutradara        :           Atom Egoyan
Penulis             :           Paul Harris Boardman
Pemain            :           Reese Witherspoon, Colin Firth
Durasi              :           124 menit

Baca Juga

Powered by Blogger.

Pengunjung

Sponsor

Hottie of The Month

Hottie of The Month
Klik Foto

HiStats

 

© 2013 Hollywoof! . All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top