Showing posts with label Horror Slasher. Show all posts
Showing posts with label Horror Slasher. Show all posts

Friday, 20 November 2015

Scream (Season 1) - Pelecehan Terhadap Warisan Hebat Wes Craven


Trilogi Scream yang dimainkan dengan apik oleh Neve Campbell, Courtney Cox, David Arquette dan sederet bintang-bintang keren lainnya yang menjadi bintang tamu (baca: tewas), memang tidak sempurna sebagai horor slasher. Namun karya besar Wes Craven ini mungkin akan selamanya menjadi referensi bagaimana film horor slasher remaja yang dipenuhi adegan tegang, dialog cerdas dan twist ending yang bikin penonton penasaran dibuat dengan sangat apik dan rapi.

Bahkan setelah satu dekade, Wes Craven masih merasa bahwa kisah Sidney Presscot ini masih bisa dilanjutkan. Walau banyak yang pesimis, Scream jilid keempat ternyata panen banyak pujian. Di antara tumpukan horor slasher yang tidak ada juntrungan, Scream 4 dengan cerdasnya menohok film-film horor sejenis dengan jalan cerita dan dialog cerdas yang sudah menjadi ciri khasnya.

Kini MTV, dengan segala sentuhan kekiniannya, mencoba mengemas serial dengan judul yang sama. Lalu apakah formula yang sama bisa dengan efektif dituangkan dalam bentuk serial?

Rasanya tak perlu diceritakan secara detil tentang seperti apakah kekinian yang ditampilkan diserial ini. Karena percuma saja jika faktor tersebut tidak dibalut dengan plot yang baik. Scream versi serial terlihat seolah ingin sekali setia dengan versi aslinya, namun kentara sekali ingin tampil berbeda. 'Reinkarnasi' tokoh-tokoh penting di versi film disempalkan membuat banyak fans versi filmnya bernostalgia. Namun, bahayanya adalah fans akan membandingkan dan jika perbandingan tersebut tidak memuaskan mereka, tentu saja akan menghasilkan caci maki.

Para pecinta versi filmnya tentu akan serta merta mencari mana Sydney Prescott-nya atau, mana Gale Weather-nya? dan tentu saja akhirnya merasa kecewa saat menemui tokoh-tokoh kesayangan mereka tidak layak dihidupkan di layar kaca dengan karakterisasi yang sangat dangkal.

Mengemas kisah pembunuhan dengan belasan episode dengan membawa nama besar Scream adalah tugas yang berat. Sama beratnya dengan menentukan siapa yang harus mati di tiap episode dan siapa yang harus selamat di akhir cerita. Belum lagi plot yang harus dipikirkan tiap episode agar cerita tidak berputar-putar tidak karuan.

Scream versi serial sebaiknya tidak usah dikait-kaitkan dengan Scream versi layar lebar. Anggap saja ini adalah serial adaptasi bebas yang cuma ditonton untuk selingan yang terinspirasi dari filmnya. Jika kalian berharap akan menemukan level ketegangan yang sama saat menonton versi filmnya, maka siap-siap kecewa saja.

Scream layak tonton karena: judulnya Scream.

Wednesday, 18 November 2015

The Final Girls (2015) - Masuk ke Film Horor dan Siap Mati, Mau?


Sekali-sekali coba sempatkan menonton film dengan tema yang absurd alias gak jelas. Dan, The Final Girls mungkin menjadi pilihan yang tepat. Pernah menonton film Pleasantville? Film lawas yang dibintangi Reese Witherspoon, Tobey McGuire dan Paul Walker muda tersebut berkisah tentang dua kakak adik yang selalu rebutan remot kontrol televisi. Suatu ketika pria aneh memberi mereka sebuah remot kontrol ajaib yang membuat mereka masuk kedalam drama televisi hitam putih. Nah, kurang lebih The Final Girls punya premis serupa, namun apa jadinya kalau lima remaja masuk kedalam film horor slasher dan bisa tewas beneran?

Istilah final girl (cewek terakhir) sebenarnya merujuk pada terlalu seringnya film-film horor atau tegang yang bertema pembantaian yang menyisakan seorang cewek sebagai satu-satunya tokoh protagonis yang selamat. Coba perhatikan film-film seperti Aliens, Halloween, Texas Chainsaw Massacre, Wrong Turn, The Thing, dan sebagainya, pasti ada seorang cewek yang berhasil selamat dan membunuh si pembantai.

The Final Girls berkisah tentang Max, cewek remaja yang ditinggal mati sang ibu. Ibunya Max dulunya pernah main di sebuah film slasher klasik yang dianggap menjadi pioner di genrenya. Suatu ketika Max dan keempat temanya menonton kembali film tersebut di bioskop. Tanpa sengaja, bioskop terbakar dan jalan keluar satu-satunya adalah lewat layar bioskop. Namun apa jadinya jika ternyata mereka masuk ke dalam film tahun 80an tersebut dan harus menyaksikan semua tokoh tewas dibantai, termasuk mereka juga? Dan apa reaksi Max saat melihat lagi sang ibu yang sudah dipastikan akan tewas juga?

Penggemar film yang biasa menonton film slasher, akan dengan mudah memaklumi aburditas yang ada di film ini. Humor yang ditampilkan juga terasa unik dan dipenuhi referensi film-film terkenal lain. Dengan gampang kita bisa menangkap adegan-adegan klise dalam film slasher yang dijadikan guyonan.

Di tengah lelucon yang terkadang hanya dimengerti fans film horor slasher, ada terselip kisah serius tokoh Max yang ingin menyelamatkan sang ibu. Plot inilah yang menjadi benang merah dan membuat plot Final Girls menjadi hidup. Lalu siapakah yang akan menjadi cewek terakhir?

The Final Girls dipenuhi wajah-wajah yang sering wara-wiri di banyak film dan serial televisi. Ada Nina Dobrev yang baru pensiun dari The Vampire Diaries, ada Alexander Ludwig yang baru saja main di film lain berjudul sama: Final Girl dengan Abigail Breslin, Ada Malin Akerman, Adam Devine dan tentu saja pemeran utamanya Taissa Farmiga yang beken lewat American Horror Story.

The Final Girls bukan tipikal film 'normal' yang biasa kita saksikan, tapi seperti yang dibilang diawal, jika kalian ingin sesekali menyaksikan kisah absurd dengan lelucon yang segmented, maka The Final Girls patut dicoba.

Hollywoof! memberi nilai B+

The Final Girls patut ditonton karena barisan bintang dan juga lelucon satirnya.

Thursday, 12 November 2015

Killers (2014) - Reunion of Two Sociopaths



Mo Brothers pernah bikin kita ngilu dengan karyanya yang fenomenal untuk ukuran film Indonesia. Masih ingat dengan Rumah Dara yang berdarah-darah itu? Nah Killers ini adalah karya kedua mereka yang juga bikin bergidik penonton lagi dengan cara berbeda. Hebatnya lagi, PT. Merantau Films yang membidani The Raid dan sekuelnya ada dibelakang film thriller psikologis ini.

Killers menceritakan dua pria yang berada di negara berbeda. Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura), pria tampan dan karismatik, seorang eksekutif muda di Jepang yang punya sisi gelap mengerikan. Hobinya membunuh wanita-wanita, dan merekam proses meregang nyawa wanita-wanita malang tersebut untuk kemudian diunggah ke dunia maya. Pria satunya dalam cerita ini adalah Bayu Aditya (Oka Antara), seorang wartawan ambisius di Jakarta. Ambisi terbesarnya adalah membongkar kebusukan politikus tua busuk bernama Dharma (Ray Sahetapy), namun yang terjadi adalah kehancuran rumah tangganya dengan Dina (Luna Maya).

Tak sengaja Bayu menonton satu dari video-video yang di unggah Nomura. Dan dihari yang berbeda Bayu tanpa sengaja juga membunuh dua preman yang ingin merampoknya. Sedikit terinspirasi oleh video yang sebelumnya dia tonton di internet, Bayu merekam korban pertamanya dan ikut-ikut mengunggah video mengerikan itu. Kian lama Bayu makin terinspirasi dengan kebrutalan Nomura dan bahkan berkomunikasi langsung. Hingga akhirnya Bayu menjelma menjadi pembunuh berantai juga. Pilihan korban Bayu tentu saja Dharma dan antek-anteknya. Namun Bayu bukanlah Nomura yang sudah terlatih, sementara sasarannya bukan orang sembarangan. Bayu pun harus membayar mahal perbuatannya.

Sepanjang film, kisah berganti-ganti dengan dinamis antara kehidupan Bayu dan Nomura. Nomura pun diceritakan jatuh cinta dengan seorang wanita cantik beranak satu, namun apakah naluri membunuhnya akan berhenti hanya karena perasaan cinta? Ikatan emosional antara Bayu dan Nomura semakin kompleks saat Bayu ikut menyaksikan secara langsung proses pembantaian yang dilakukan Nomura, hingga akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk bertemu secara langsung! Waduh!



Cita rasa film Jepang yang lambat tapi membuat bergidik sangat terasa di segmen yang menceritakan Nomura. Eksplorasi karakter dan detil proses pembantaian wanita-wanita malang itu di atur dengan ritme yang lambat namun mengerikan. Sementara Bayu dan Istrinya diceritakan dengan gaya yang dinamis lantaran Bayu menjadi pembunuh berantai akibat dipaksa keadaan.

Disinilah terlihat kehebatan akting Oka Antara. Aktor yang kerap bermain sinetron ini mampu menguras emosi penonton dengan raut wajah bingungnya saat harus kehilangan semua yang ia punya demi ambisi yang kebablasan. Nampaknya aktor-aktor yang kerap terlibat di film-film produksi Merantau Films juga dilibatkan disini. Ray Sahetapy yang sukses membuat geram penonton sebagai dedengkot mafia narkoba di The Raid tetap prima dalam urusan akting. Urusan akting yang bagus juga ditampilkan oleh Luna Maya yang berperan sebagai istri Bayu, dan jangan lupa Epy Kusnandar juga tak kalah hebatnya berperan sebagai antek Dharma yang harus mati mengenaskan di tangan Bayu.



Di barisan bintang Jepang, Kazuki Kitamura, Rin Takanshi dan Mei Kurokawa juga menampilkan akting cemerlang. Kazuki Kitamura yang beperan sebagai Nomura yang dingin dan kejam berhasil membangun emosi penonton yang sabar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Plot Killers tidak secepat The Raid atau se-gory Rumah Dara, namun kengeringannya dibangun perlahan hingga klimaks yang mempertemukan dua pembunuh ini dengan cara yang tak terpikirkan penonton. Mo Brothers (Kimo Stamboel dan Timo Cahyanto, yang ikutan gaya Phang Brothers baik nama dan movie making style-nya) makin mantap di jalur film gory flick yang keahliannya makin tajam menakut-nakuti penonton dengan drama yang kuat. Penonton tentu saja berharap Merantau Film makin banyak menyokong sineas-sineas hebat macam mereka sehingga film-film Indonesia tak melulu berisi genre horor yang makin aneh dan bodoh.

Memorable scene: (Spoiler!!!) Bayu mendapati handycam yang berisi penyiksaan istrinya dan saat keluar dari rumah kontrakannya, dia melihat sosok seseorang yang tak pernah ia sangka akan ia lihat secara langsung.    

Hollywoof! memberi nilai: A

Killers
Genre        :    Drama / Action
Sutradara    :    Mo Brothers /
Penulis        :    Takuji Ushiyama / Mo Brothers
Pemain        :    Oka Antara, Kazuki Kitamura, Luna Maya, Ray Sahetapy
Durasi        :     137 Menit


Sunday, 1 November 2015

The Midnight Meat Train (2008)


Kereta Pembawa Daging Manusia

Selain Stephen Kings, Clive Barker juga adalah penulis novel dan cerpen horror yang karya-karyanya tetap memikat dan terus dijadikan sumber cerita film-film horror Hollywood. The Midnight Meat Train sendiri adalah cerpen seram dengan judul sama yang muncul di Volume Satu Books Of Blood, buku kumpulan karya Clive Barker. Di banding karya Stepehen Kings, karya-karya adaptasi karya Clive Barker terkesan lebih gory dan berdarah-darah. Masih ingat Candyman dan Hellraiser, kan?

Disutradarai sineas Jepang Ryuhei Kitamura, The Midnight Meat Train berkisah tentang seorang fotografer yang tanpa sengaja mengikuti seorang penjagal yang ia curigai terlibat dengan kasus hilangnya banyak orang. Bukannya di bantu, saat melapor ke polisi, Leon malah dicurigai terlibat. Makin penasaran dengan si Subway Butcher ini, Leon makin terobsesi membongkar rahasia si penjagal bengis ini. Hingga pada klimaksnya Leon berhasil menguak misteri sebenarnya mengapa penjagal parlente ini harus menjagal manusia setiap malam. Akhir cerita dengan cita rasa The Twilight Zone akan membuat penonton tercengang. Entah bingung atau terkesan.

The Midnight Meat Train di penuhi adegan brutal yang bisa membuat penonton muntah. Percikan darah dibuat lebih dramatis dengan sentuhan CGI yang entah apa maksudnya. Atmosfir seram yang ditampilkan di dalam kereta bawah tanah di malam hari cukup membuat penonton merinding. Vinnie Jones yang aktingnya pas-pasan diberi tugas menghidupkan si Penjagal Kereta Malam ini. Untungnya, tongkrongan tinggi besar dan wajah seramnya sudah cukup membuat ngeri penonton lantaran tugasnya sepanjang film hanya berdiam diri dan membunuh para penumpang kereta.

Bradley Cooper dan Leslie Bibb ditugasi menjadi pasangan kekasih yang harus terlibat dengan misteri si tukang jagal dan kereta malam. Kalau kalian masih ingat, di tahun film ini di rilis, Cooper dan Bibb menjadi bintang tamu di serial Nip/Tuck. Sementara karir film Cooper makin meroket hingga saat ini bahkan wara wiri di karpet merah piala oscar, Bibb masih harus berjuang membuat orang-orang mengingat namanya.

Berita yang dilansir luar menyebutkan jika film ini diperlakukan tidak adil oleh studio dan distributor sehingga hanya ditayangkan secara terbatas di bioskop-bioskop tertentu, dan setelah itu harus masuk tumpukan DVD dan Bluray. Secara pribadi, Ithonx menilai film ini cukup berkesan dan menegangkan. Jika endingnya membuat bingung sebagian orang, maka salahkan mereka yang tak terbiasa dengan cerita-cerita misteri ala Kings dan Barker. So, biasakan menonton film-film adaptasi karya mereka ya. 

Verdict: B+

Film ini patut ditonton karena:
Ada Bradley Cooper dan tentu saja karna adaptasi karya Clive Barker.

Baca Juga

Powered by Blogger.

Pengunjung

Sponsor

Hottie of The Month

Hottie of The Month
Klik Foto

HiStats

 

© 2013 Hollywoof! . All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top