Showing posts with label TV Series. Show all posts
Showing posts with label TV Series. Show all posts

Monday, 13 June 2016

Bates Motel (Season 4) - Awal dari Akhir.




Spoiler Alert!

Season keempat kisah Norma Bates dan kedua putranya ini telah banyak ditunggu penonton yang penasaran akan nasib tokoh-tokoh di dalamnya. Apalagi gencar diberitakan kalau musim kelimanya akan menjadi musim pamungkas kisah adaptasi prekuel film legendaris Psycho ini.

Musim keempat menceritakan dilema Norma yang tak mampu memasukkan Norman ke rumah perawatan khusus penderita penyakit kejiwaan yang mahal, sementara bukti-bukti bahwa Norman mulai membunuh lagi telah ia temukan. Siapa korbannya kali ini?

Namun diantara kegalauannya, Sherif Romero menawarkan solusi jitu. Yaitu menikahinya. Dengan begitu biaya perawatan Norman bisa diatasi oleh asuransi. Kita juga tahu kalau Romero juga menyimpan satu tas berisi uang dari seorang kriminal yang dibunuhnya di musim lalu.

Singkat cerita, Norman akhirnya masuk ke rumah perawatan khusus. Norma bahagia bersama Romero. Dan Dylan dan Emma pun ikut berbahagia. Hingga suatu saat Norman mengetahui kalau ibunya telah menikah lagi. Tak rela cintanya dibagi, Norman berusaha keluar dari rumah perawatan tersebut. Dylan (yang yakin kalau ada korban baru) dan Romero berusaha meyakinkan Norma supaya membuat Norman tetap berada dalam perawatan. Norma Bates pun galau. Kecintaannya yang berlebihan kepada putranya yang mengidap masalah kejiwaan itu akhirnya malah berakibat fatal.

Kisah di musim keempat ini sungguh membuat penonton gregetan. Lapis demi lapis masalah sebenarnya mulai terurai. Penonton sempat mendapat akhir bahagia untuk Dylan dan Emma, dan juga Norma dan Romero. Namun dengan pintarnya, di episode akhir plot berubah menjadi bencana.

Lagi-lagi kita ingin buru-buru menyaksikan musim selanjutnya yang mungkin menjadi musim penutup serial berepisode sepuluh ini. Yang telah menyaksikan Psycho, mungkin berharap akan ada pengulangan-pengulangan adegan fenomenal ala filmnya. Yang hanya menyaksikan serialnya saja mungkin ingin segera menyaksikan bagaimana Norman Bates kena batunya dan membayar semua dosa-dosanya sepanjang empat musim.

A

A must watch.


Thursday, 9 June 2016

SUPERGIRL (Season 1) - Si Manusia Baja Yang Mengenakan Rok


Dekade 90an kita pernah menikmati Superboy di layar televisi yang dibintangi John Haymes Newton. Dengan segala keterbatasan efek visual dan plot yang tidak terlalu berat, Superboy mampu bertahan beberapa musim. Saat ini, gempuran tayangan Superhero makin menjadi-jadi. Jika menghidupkan kembali Clark Kent ke layar gelas dianggap terlalu dini lantaran Smallville masih membayang-bayangi, pilihan bijak nampaknya dengan menghidupkan sepupu perempuan si Manusia Baja itu, Kara Danvers alias Supergirl.

Sedikit mengherankan adalah Supergirl tidak dibesut stasiun The CW yang kadung di cap sebagai 'wadah' superhero-superhero DC. Supergirl tayang di CBS. Pengharapannya tentu saja Supergirl akan menjadi tayangan 'bergizi' dibandingkan superhero-superhero yang lebih dulu tayang di The CW. 

Ingat Melissa Benoist yang memerankan Marley Rose dalam serial musikal Glee? Nah gadis cantik ini dipercaya mengenakan kostum merah hijau bersayap Supergirl. Penggemar serial televisi juga akan mendapati Calista Flockhart si Ally McBeal yang ikut meramaikan cerita.

Lalu bagaimana dengan plotnya?
Kisah gadis super ini mengekor kisah Agent S.H.I.E.L.D. Supergirl tidak 'bersolo karir', layaknya Superboy di dekade 90-an. Supergirl harus dibantu DEO, semacam badan rahasia khusus yang bertugas menangkapi kembali buronan-buronan The Phantom Zone. Tentu saja saat tidak menjadi Supergirl, jagoan kita ini menyaru sebagai Kara Danvers, asisten seorang media mogul cerewet, Cat Grant yang diperankan Callista Flockhart. Saban hari, Kara harus menyelesaikan tugas-tugasnya bersama Winn Schott dan James Olsen. Nah, Kara ternyata menaruh hati kepada James Olsen, sementara Winn Schott juga diam-diam menyukai Kara. 

Oh ya, yang menjadi ganjalan adalah tokoh Jimmy Olsen (di Supergirl ia bersikeras ingin dipanggil James) yang diperankan aktor kulit hitam Mehcad Brooks (Desperate Houswives, True Blood). Padahal kita tahu bahwa Jimmy Olsen adalah pria kulit putih teman setia Superman yang nerdy, yang kemana-mana mengalungkan kamera. Jimmy Olsen, atau James Olsen versi Supergirl sangat jauh berbeda. Tak terlihat nerdy, bahkan tinggi kekar. Keputusan ini tentu saja mengecewakan banyak fans kisah Si Manusia Baja. Apalagi di Supergirl, tokoh James Olsen tidak menunjukkan greget.

Callista Flockhart yang memerankan tokoh Cat Grant, bos Kara Danvers, sangat tipikal. Sedikit mengingatkan kita dengan tokoh bos yang semena-mena di Devil Wears Prada, dan tentu saja Ally McBeal yang quirky.

Supergirl tidak sekelam Gotham. Bahkan belum bisa disandingkan dengan Daredevil-nya Netflix. Kisah Supergirl terlalu ringan untuk menjadi tontonan yang dirindukan karena tidak memancing rasa penasaran penontonnya. Untuk serial besutan CBS, Supergirl terlalu bercita rasa Smallville. Yang jelas, serial ini cukup aman sebagai tayangan keluarga.

--------

B-

It's worth watching because you don't have anything better to watch.


Wednesday, 2 December 2015

Bates Motel (Season 3) - Dan Semua Kekacauan Pun Dimulai.


Setelah menyusuri cerita Norma, Norman dan Dylan di season 1 dan season 2, cerita keluarga Bates ini makinn rumit dan banyak konflik yang makin menarik.

Norma yang makin curiga dengan kelainan jiwa putranya, Norman, kini terus mengawasi gerak-geriknya. Hingga ketika seorang tamu wanita cantik tiba-tiba menghilang setelah diantar Norman, Norma menjadi kalang kabut mencari tahu nasib tragis sang tamu. Saat ternyata si tamu cantik ditemukan, Norma malah diberi sebuah flashdisk yang isinya akan membuat banyak orang terlibat dalam permainan berbahaya. 

Norma juga sangat ingin menormalkan hidupnya. Maka dari itu dia kembali masuk ke Community College dan bertemu dosen psikologi yang nantinya diharapkannya mampu menolong Norman.

Sementara itu Norman makin menunjukkan gejala sakit jiwa yang gawat. Setelah Caleb, kali ini sang kakak, Dylan, memergoki Norman bertingkah seperti Norma. Puncaknya saat Norman ingin minggat bersama Bradley (Bradley dikisahkan memalsukan kematiannya dengan bantuan Norman dan Dylan di season 2), kepribadian ganda Norman yang berwujud Norma muncul dan menghabisi nyawa Bradley.

Dylan yang merahasiakan kehadiran Caleb, paman sekaligus ayah kandungnya, kini mencoba memperbaiki hubungannya dengan Norma. Mencoba membuat ladang ganja sendiri, Dylan dan Caleb menyadari bahwa yang mereka lakukan tidaklah mudah. Dylan juga mulai dekat dengan Emma yang sebelumnya berpacaran dengan Norman. Bahkan Dylan nantinya akan memberi semua uang modal usahanya untuk biaya pencangkokan paru-paru Emma.

Sherrif Romero yang kini menjadi tokoh reguler di musim ketiga, banyak mendapat tekanan dari pejabat dan pengusaha kotor. Flashdisk yang berada ditangan Norma, ternyata menyeret kembali nama ibu nya. Dengan bantuan Norma, Sherif Romero berusaha menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.

Semua konflik yang dihadirkan di musim ketiga ini saling berkaitan satu sama lain dengan semua tokoh utama. Tentu saja fokus utama adalah kisah Norman yang makin menjadi-jadi penyakit jwanya.

Musim ketiga ini makin solid dan menuai  banyak pujian. Ritme plot yang banyak letupan dan kejutan ditiap episode, makin membuai penonton. Musim ini ditutup dengan adegan Norman yang membunuh Bradley dengan kepribadiannya yang lain yang berwujud sang Ibu, Norma. Tentu saja ini membuat penonton penasaran dengan apa yang terjadi di musiim keempat. Apa Norma akan tewas ditangan Norman seperti kisah aslinya?

Hollywoof gives an A for Bates Motel Season 3.

Friday, 27 November 2015

Bates Motel (Season 2) – It's all about Norman



Melanjutkan cerita di musim sebelumnya (Bates Motel Season1), konflik makin meruncing dengan hadirnya Caleb yang ternyata saudara kandung Norma. Penonton diberi kejutan tentang siapa sebenarnya Caleb, tak lama kemudian. Sementara Norman berkenalan dengan cewek baru, Emma, yang kemana-mana selalu membawa tabung oksigen, bertemu juga dengan cowok lain.

Penyelidikan tentang tewasnya ibu guru Watson masih terus berlangsung. Ayah almarhumah ibu guru Watson ternyata berhubungan dengan bisnis narkoba yang dilakoni Dylan.

Norma yang kali ini beruntung bertemu dengan pria tampan yang jatuh hati dengannya, lagi-lagi harus menomersatukan kedua anak laki-lakinya.

Di penghujung musim, Norman akhirnya sadar dengan apa yang dia lakukan terhadap ibu guru Watson, namun pengaruh sang ibu, Norma, membuat bibit jiwa psikopatnya mulai berkembang.

Musim kedua terlihat lebih solid dengan banyaknya konflik antar tokoh yang membuat cerita lebih menarik. Hadirnya tokoh Caleb yang ternyata ayah kandung Dylan sebenarnya bisa membuat konflik menjadi lebih runcing, namun nampaknya masih disimpan dahulu lantaran Keluarga Bates sudah punya banyak masalah.

Michael Vartan yang beken lewat serial Alias hadir juga memeriahkan konflik yang diketengahkan, namun nampaknya tokoh yang diperankan terkesan numpang lewat saja, atau mungkin ‘disimpan’ juga untuk musim selanjutnya? Semoga saja.

Trio Vera Varmiga, Freddie Highmore dan Max Theiriot masih tetap prima melakoni peran yang mereka bawakan. Akting mereka sangat bagus dan patut mendapat pujian. Sementara disektor plot, Bates Motel masih mempunyai ritme yang sama seperti musim sebelumnya. 

Bates Motel Season 2 masih memikat dan tetap stabil menjaga thrill yang ada sepanjang 10 episode yang dihadirkan.  Dijamin penonton penasaran apa yang terjadi di musim selanjutnya.

Hollywoof! thinks Bates Motel Season 2 deserves an A.

Memorable Scene: Norman menyadari bahwa dialah pembunuh Ibu Guru watson.


Saturday, 21 November 2015

Rush (Season 1) - Not Your Regular Doctor!


Serial dengan tokoh protagonis dokter rasanya sudah bejibun. Dokter-dokter yang baik hati sudah mulai mencuri hati mulai dari jaman ER dan  Grey's Anatomy atau yang kategori kurang beken semisal Off The Map atau Miami Medical juga sudah banyak. Dokter-dokter nyentrik yang anti hero pun banyak yang mendapat tempat dihati pecinta serial TV. Duo dokter bedah plastik di Nip/Tuck atau dr. House yang nyentrik punya penggemar yang tak kalah banyak. Lalu apa yang ditawarkan Rush? Para pemeran yang hot? Tidak juga. Cerita yang unik? Nope. Atau dramalurgi yang menyentuh? Umm...gimana ya. Rasanya susah dijabarkan. Namun dengan formula yang generik dengan medical scenes yang tidak terlalu detil, Rush mampu memikat hati penonton.

Rush berkisah tentang seorang dokter cerdas, Will Rush yang menyebut dirinya free agent lantaran tidak bekerja untuk siapapun dan rumah sakit manapun. Lalu siapa pasiennya? Rush kerap mendapat telepon untuk mengatasi masalah-masalah medis yang high profile dari kaum jet set atau malah mafia. Para klien biasanya menghindari pemberitaan atau pertanyaan-pertanyaan pihak berwajib jika masuk ke rumah sakit biasa. Untuk jasanya ini, Rush di bayar super mahal dengan uang cash.


Rush bukanlah dokter baik hati. Sifatnya yang glamor, anti sosial dan nge-drug apa saja membuatnya susah menjaga hubungan cinta yang langgeng dengan perempuan. Di bantu asistennya yang pandai, Eve, Rush menghabisi minggu demi minggu menerima panggilan medical emergency yang aneh dan berpesta narkoba. Selain Eve, penyeimbang kehidupan sosialnya adalah teman kuliahnya yang telah berkeluarga dan punya anak. Hubungannya dengan sang ayah yang juga dokter hebat pun tak harmonis lantaran sang ayah membenci gaya hidupnya yang urakan.

Rush akhirnya sampai pada mementum yang mengharuskan dia meninggalkan gaya hidupnya, namun apakah semudah yang semua orang bayangkan?

Rush adalah drama besutan stasiun televisi USA yang membidik penonton pria yang menyukai drama bermutu. Karakter yang disodorkon abu-abu dengan ritme cerita yang tidak mendayu-dayu. Walau sedikit soapy di akhir season dengan menampilkan kisah cinta ala sinetron, Rush mampu mempertahankan ritme cerita dengan pas hanya dengan 10 episode saja.

Tom Ellis mampu menghadirkan akting memikat sebagai Rush yang flamboyan. Untuk sebuah character driven story, pria tinggi langsing tampan ini mampu menghadirkan kompleksitas pergulatan batin tokoh dengan karakter unik ini. Konflik yang disajikan juga lumayan santai dan tidak terlalu berlebihan walau Rush selalu digambarkan sebagai penyelamat dalam situasi genting dengan imbalan besar. Sayangnya, suntikan konflik pribadi dalam cerita ini terasa sangat generik. Kisah cinta bad boy with good girl, wild single man vs family man, atau side kick vs angry lover terlalu sering ditampilkan. Untungnya Rush terselamatkan dengan konflik per episode yang unik dengan sokongan tampilan James Ellis yang mempesona.

Rush bukan tontonan medical drama yang luar biasa bahkan tokoh unik ini bukan panutan untuk kita, tapi bukankah sesekali kita memang butuh tokoh yang tidak membosankan dengan dilema moral a la Walter White di Breaking Bad kan?

Hollywoof! thinks this drama deserves a solid B

The pro    :     Handsome doctor with quirky life style
The con    :     Common conflicts


Rush Season 1

Genre              :     Medical Drama
Pemain            :    Tom Ellis, Larenz Tate, Sarah Habe
Durasi per episode    :    43 menit – 10 episode

Thursday, 29 October 2015

Devious Maids (Season 3)


Rumitnya Kisah Cinta Para Pembokat

Melanjutkan kisah di musim kedua, kali ini pembokat pendatang baru dihadirkan untuk membuat cerita menjadi lebih ramai. Naya Rivera yang beken  sebagai Santana di serial hits Glee kebagian peran sebagai Blanca, seorang gadis pembantu yang nyambi sebagai mahasiwi. Masuknya tokoh Blanca ternyata mengakibatkan didepaknya tokoh Valentina yang diceritakan pergi menemani Remi yang kuliah di New York.

Di kisahkan ada misteri pembunuhan terbaru dengan ditemukannya potongan tubuh di rumah keluarga Powell. Sembari menebak-nebak siapa pembunuhnya dan motif dibaliknnya, kita akan disodori kelanjutan kisah pribadi Marisol, Rosi, Zoila dan Carmen.

Marisol kini berprofesi sebagai penyalur pembantu, dan salah satu binaannya adalah Blanca. Kali ini ketua para pembantu ini terlibat cinta dengan seorang pembantu pria mantan tentara.

Carmen masih terlibat perselingkuhan dengan realtor yang dia kencani sejak musim kedua. Kali ini dia harus kena batunya lantaran perselingkuhannya tercium istri Sebastian and she had to kiss her music career goodbye.

Rosita menghadapi dilema karena suami pertamanya, Ernesto, ternyata belum tewas. Kini dia harus memilih antara Ernesto atau Spance.

Zoila pun harus menghadapi dilema yang lebih pelik. Ternyata dia mengandung bayi Pablo, suaminya yang tewas saat pernikahan Rosi. Apa dia mesti berbohong tentang siapa ayah bayi  yang dikandungnya agar dinikahi Javier?

Dibarisan para majikan, keluarga Powell hendak mengadopsi anak. Apa jadinya jika mereka mendapatkan bocah berkulit hitam? Sementara Genevieve kini berpacaran  dengan dokter pribadinya. Masalah mulai muncul saat sang pacar tinggal dirumahnya dan merencanakan menyingkirkan Zoila.

Biang kerok yang membawa masalah adalah kembalinya lagi Keluarga Stappord yang membawa anak hasil adopsi yang entah dari mana asalnya. Keluarga Stappord memperkerjakan Blanca sebagai  pembantu mereka yang mengawali masalah utama disepanjang musim ketiga ini.

Devious Maids musim ketiga ini masih memakai formula yang sama di musim pertama dan kedua. Walau belum bisa menandingi kisah Desperate Housewives yang jauh lebih memikat, Devious Maids bisa ditonton sebagai selingan tanpa harus mengernyitkan dahi, khususnya bagi kaum hawa.



Wayward Pines


Twin Peaks a la M. Night Shyamalan

Nama besar Matt Dillon sebenarnya sudah cukup membuat kita melirik serial pendek berepisode 10 ini. Namun demi melihat nama M. Night Shyamalan di bangku penulis dan sutradara, maka ada sedikit pertimbangan atas pengharapan seperti apa nanti ujung serial ini. 

Shyamalan punya reputasi yang cukup membingungkan.Sineas asal India ini pernah membuat kita mengernyitkan kening sambil tercengang lewat The Sixth Sense, The Unbreakable dan Signs lantaran mampu menyodorkon twist ending yang tak mudah ditebak. Namun reputasinya sedikit tercoreng saat gagal mengulang pola yang sama di film The Village, The Happening dan Lady In The Water. Puncaknya, sineas kriwil ini dicerca habis-habisan karena semena-mena mengadaptasi animasi The Last Airbender dan juga menyutradarai film mediokernya Will Smith, After Earth.

Tapi sudahlah, Shyamalan pasti punya banyak cerita dengan ending menarik lainnya yang ia persiapkan. Namun tetap saja, Wayward Pines akan langsung mengingatkan kita pada The Village dengan sedikit atmosfir Twin Peaks yang beken itu.

Diangkat dari novel karya Blake Crouch, Wayward Pines berkisah tentang Ethan Burke, seorang Agen Rahasia yang menyelidiki dua partnernya yang hilang. Saat tak sadarkan diri, Burke menemukan dirinya terbangun di sebuah kota bernama Wayward Pines. Satu partnernya tewas, sementara satunya yang merupakan wanita selingkuhannya malah menjadi warga kota misterius itu dengan identitas berbeda. Belum sempat memecahkan misteri yang ada, istri dan anaknya malah datang ke kota yang diperintah oleh Sherif beringasan. Apa benar semua warga Wayward Pines tidak akan pernah bisa keluar dari kota ini?

Kenikmatan menonton cerita misteri karya M. Night Shyamalan adalah menunggu akhir kisahnya. Yang tak terbiasa dengan twist ending buatannya pasti akan ngomel, sementara yang sudah menonton karya-karyanya akan manggut-manggut sambil bilang "Oooh begitu..."

Verdict: B

Patut ditonton karena: ada Matt Dillon, episode gak banyak, dan bisa mengutuk atau memuji si Shyamalan lagi.

Bates Motel (Season 1)


Selamat Datang di Kehidupan Norman dan Norma Bates!

Pecinta film sejati pastilah mengenal tokoh Norman Bates yang ikonik itu. Pria psikopat ini hadir dalam cerita film karya monumental Alfred Hitchcock berjudul Psycho. Psycho sendiri disebut sebagai pionir genre slasher.

Lalu siapa sebenarnya Norman Bates?
Psycho dan beberapa sekuelnya menggambarkan Norman Bates sebagai pembunuh psikopat yang juga pemilik motel Bates. Norman kerap berpakaian wanita saat membunuh para wanita yang menginap di motelnya. Mengapa?

Yang telah menyaksikan filmnya (atau juga remakenya) pasti telah tahu jawabannya. Namun yang masih awam dengan kisah Norman Bates yang konon ditulis berdasarkan kisah asli pembunuh psikopat sadis Ed Gein ini, tak perlu risau karena serial ini adalah kisah prekuel Psycho dengan sentuhan kekinian yang menelusuri sebab musabab mengapa Norman Bates perlahan menjelma menjadi Si Norman Bates sang Psikopat. Siapa tahu setelah menyaksikan serial ini, anda menjadi tertarik menyaksikan Psycho dan sekuel-sekuelnya.

Norman Bates (Freddie Highmore) harus menyaksikan tewasnya sang Ayah dirumahnya sendiri. Sang Ibu, Norma Bates (Vera Farmiga) kemudian membawa Norman memulai hidup baru di sebuah kota kecil dengan membeli sebuah motel tua dengan uang asuransi kematian sang suami.

Memulai bisnis motel di sebuah kota kecil tanpa sanak-saudara bukanlah perkara mudah. Pemilik motel sebelumnya masih bersikeras mengakui bahwa motel yang sudah turun temurun dimilikinya itu adalah masih miliknya. Hidup ibu dan anak ini makin rumit saat tak sengaja terlibat pembunuhan. Belum usai masalah pembunuhan, Norma harus direcoki dengan anak laki-lakinya yang lain. Lingkaran masalah makin besar saat aparat hukum terlibat dengan semua masalah yang dihadapi Norma dan Norman. Dan tokoh baik dan jahat pun menjadi abu-abu.

Semua pendukung Bates Motel menampilkan kualitas akting yang luar biasa memikat. Pemilihan Freddie Highmore dan Vera Fermiga sebagai pasangan ibu dan anak Norman dan Norma Bates sangat tepat. Kemistri yang dibangun dua bintang ini sangat pas. Mantan aktor cilik Freddie Highmore tak mengalami kesulitan berarti memerankan Norman Bates muda, sementara Vera Farmiga tak perlu dipertanyakan kualitas aktingnya. Wanita ini sangat ekspresif dan begitu cemerlang menghidupi tokoh Norma Bates, sang ibu yang serba salah mengambil sikap menghadapi dua anak laki-lakinya.

Max Thieriot yang screen time-nya sama banyaknya dengan dua pemeran utama juga mampu menjelma menjadi kakak Norman yang sebenarnya tidak ada di versi asli filmya. Thieriot sebelumnya pernah menjadi psikopat juga di film House At The End Of The Street yang meneror si cantik Jennifer Lawrence.


Mike Vogel yang kerap menjadi pemeran utama di beberapa serial semisal Under The Dome atau Miami Medical, kali ini cuma kebagian sebagai bintang tamu. Tapi jangan salah, tokoh yang ia perankan adalah tokoh kunci yang menjadi biang masalah di musim perdana ini.

Bates Motel adalah tontotan drama memikat yang berkualitas. Bahkan jika anda bukan penikmat serial drama sekalipun, Bates Motel dijamin mampu menyita perhatian anda.

Verdict: A+

Bates Motel Season 1 memuat hanya 10 episode saja.

Wednesday, 28 October 2015

The Flash (Season 1)


Just Another CW Cheesy Superhero Series

CW memang berhasil meraup banyak penonton lantaran besutannya banyak memasang wajah-wajah kinyis ala sinetron kita. Seusai Smallville, serial Arrow yang dibintangi Stephen Amell mampu merebut hati pecinta serial superhero. Nah, tokoh Barry Allen si manusia super cepat ini sebelumnya diperkenalkan dalam serial Arrow sebagai teman Felicity.

Jika Arrow mampu bercerita dengan alur maju mundur yang cukup memikat, apalagi Stephen Amell kerap memamerkan tubuh bugarnya yang jelas menjadi magnet peraup rating yang cukup ampuh, namun nasib serupa belum bisa di capai The Flash. Walau berhasil melangkah ke musim kedua, The Flash belum mampu menunjukkan taringnya sebagai tontonan berbobot. 



Musim perdana The Flash dipenuhi plot dan adegan yang super klise. Irama bercerita dan konflik yang ditawarkan masih sangat standar dan terlalu mengikuti pakem Smallville. Sehingga kesan yang diberikan adalah serial ini lebih menyasar para abg yang tidak memperdulikan banyaknya plot hole dan penyelesaian masalah yang ringan di akhir episode.

Mungkin saja di musim keduanya, serial ini nantinya menampilkan kisah cerita yang lebih berbobot lagi.

Baca Juga

Powered by Blogger.

Pengunjung

Sponsor

Hottie of The Month

Hottie of The Month
Klik Foto

HiStats

 

© 2013 Hollywoof! . All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top