Wednesday, 25 November 2015

Jan Dara The Beginning (2012) - Selamat datang di Rumah Mesum!


Adaptasi novel erotis klasik Thailand karya Utsana Phlengtham yang berjudul The Story of Jan Dara diangkat ke layar lebar lagi. Rasanya belum lama kita menyaksikan versi tahun 2001 lalu yang cukup menggetarkan syahwat itu.

Versi kali ini memasang superstar Thailand yang makin menanjak karirnya yaitu Mario Maurer. Sejak membintangi film puber The Love of Siam saat masih ABG, karir bintang peranakan China dan Jerman ini makin meroket.

Berbeda dengan versi 2001, Jan Dara yang memakai embel-embel The Beginning ini hanya bercerita dari Jan Dara lahir hingga akhirnya meninggalkan rumah. Dengan begitu, cerita masing-masing tokoh bisa dengan leluasa dieksplorasi.

Dengan sedikit polesan di sana-sini, Jan Dara The Beginning masih mengisahkan kisah Jan Dara di rumah besar yang penuh nafsu bejat. Ibu Jan meninggal dunia saat melahirkan dirinya sehingga sang ayah membencinya setengah mati. Jan terus menerima cacian dan siksaan hingga besar sementara sang ayah melampiaskan nafsu bejatnya ke banyak perempuan. Salah satu perempuan yang dinikahi sang ayah ternyata sangat sayang padanya, walau nanti putrinya yang manja sangat membenci Jan Dara.

Jan Dara dan Ken, putra pembantu, berteman akrab. Ken yang seorang playboy kampung dan pandai berkelahi mengajari Jan dunia penuh nafsu birahi yang tak pernah usai. Untungnya, Jan Dara tidak terlalu terpengaruh. Di sela-sela hinaan dan perlakuan tidak adil dari sang ayah, Jan Dara tetap berkuliah dan bertemu gadis cantik yang dia sukai.

Saudari tiri Jan, Kun yang kerap mengintip aktifitas bejat Ken diam-diam menyukai Ken. Hingga suatu ketika Ken dan Kun melakukan hubungan intim dan Jan memergokinya. Dengan lihai, Kun yang culas menuduh Ken memperkosanya. Ayah Jan Dara ngamuk dan berujung Jan Dara dan Ken pergi dari rumah tersebut. Film ditutup dengan adegan Jan dan Ken kembali bersahabat dan meninggalkan kota di antar oleh ibu Ken dan ibu tiri Jan Dara yang baik hati.

Bagi yang telah menonton Jan Dara versi 2001, The Beginning seolah versi upgrade nya saja. Dalam artian, bintang-bintang yang terlibat lebih putih bersih dan seksi dibanding versi sebelumnya. Para pemainnya nampak tidak memperlihatkan kecantikan dan ketampanan khas Thailand di versi sebelumnya. Semua pemainnya memang bermain berani buka-bukaan, baik aktor dan aktrisnya, namun nampaknya tidak bagi Mario Maurer. Kecuali memang belum saatnya bermain berani di jilid pertama ini, rasanya aktingnya sangat hambar.

Bicara soal akting, nampaknya versi terdahulu jauh lebih unggul. Selain menjual wajah fresh, Jan Dara The Beginning terselamatkan oleh banyaknya adegan-adegan ranjang sepanjang film. Sayangnya, seperti yang di bilang sebelumnya, Mario Maurer bermain kaku di sini, padahal dia adalah pemeran utama yang menjadi tumpuan cerita. Sementara Chaiyapol Julian Pupart yang memerankan Ken jauh lebih berwarna dan yang jelas lebih beruntung karena dia mendapat jatah screen time jauh lebih banyak untuk mencicipi tubuh lawan-lawan mainnya. Tak heran, perannya yang tidak pernah mengenakan baju membuat Chaiyapol leluasa memamerkan dada dan sixpacknya sepanjang film. Jadi bisa dibilang dialah scene stealer dalam film ini.

Perfilman Thailand memang berbeda dengan perfilman kita, jadi jangan bertanya-tanya mengapa hampir semua bintang di film ini berani beradegan mesum. Lagipula film ini adalah adaptasi sebuah novel cabul juga. Sambil menunggu jilid selanjutnya, sebaiknya anda menonton Jan Dara versi terdahulu yang lebih lengkap ceritanya, dan tentu dengan bintang-bintang yang lebih khas Thailand. Kita lihat apakah Mario Maurer tampil lebih berani dari Chaiyapol di jilid berikutnya.

Hollywoof! thinks this film just deserves a B-

Memorable scene: Seharusnya adegan Jan Dara mengoleskan es batu ke tubuh selir ayahnya yang dijadikan poster film ini menjadi memorable, namun sayangnya sangat flat dan tidak menarik seperti versi sebelumnya. Jadi, memorable scene di film ini harus di rebut oleh semua adegan mesum Ken. The bathing scene is the best one.

Jan Dara The Beginning
Genre        :    Drama
Sutradara    :    Bhandevanov Devakula
Penulis        :    Bhandevanov Devakula
Pemain        :    Mario Maurer, Bongkot Kongmalai
Durasi        :    90 menit
Adaptasi    :    Novel karya Utsana Phlengtham, The Story of Jan Dara


Tuesday, 24 November 2015

A Million Ways To Die In The West (2014) - The Flat Cowboy Comedy




Seth MacFarlane adalah pria tampan berbakat dibalik komedi animasi ngeres Family Guy dan juga Ted. Naskah dan dialog yang ditulisnya terkadang sangat kotor dan rasis, namun tetap menghibur penonton. Setelah puas menulis, menyutradarai, mengisi suara tokoh-tokoh animasi cabul ikonik, kini MacFarlane tergiur untuk menampilkan sosok utuhnya dalam sebuah komedi bernafas sama dengan setting dunia koboy.

Kisahnya tentang Albert Stark, peternak domba yang nerdy tapi baik hati. Albert yang miskin mencintai Louise yang menginginkan pacar kaya. Suatu hari Albert bertemu Anna yang pandai menembak. Anna mengajarinya bagaimana supaya percaya diri dan merebut hati Louise. Perlahan tumbuh rasa suka diantara mereka. Namun Albert tidak mengetahui jika Anna adalah istri bandit besar Clinch, sehingga tak ada pilihan lain bagi Albert untuk berduel saat Clinch datang ke kotanya dan mengetahui perbuatan mereka. Siapa yang menang? Siapa yang dipilih Albert? Rasanya semua penonton tak perlu bersusah payah menebaknya.

Seth MacFarlane berhasil menggaet bintang-bintang besar dalam film ini. Liam Neeson, Charlize Theron, Amanda Seyfried, Neil Patrick Harris, Giovanni Ribisi dan Sarah Silverman bermain bagus. Tapi sayangnya, untuk sebuah film komedi, A MILLION WAYS TO DIE IN THE WEST sangatlah garing. Kita tahu MacFarlane berusaha keras mengumbar kelucuan khasnya, namun rasanya tidak punya amunisi kuat untuk sekedar membuat penonton tersenyum. Menyisipkan dialog-dialog dengan kosakata modern dalam film berlatar jadul atau menampilkan adegan kekerasan yang berdarah-darah untuk memancing kelucuan ternyata menjadi sesuatu yang aneh dan terlalu berlebihan. Malangnya, dialog-dialog lucu yang menjadi ciri khas MacFarlane ternyata tidak se-ngeres biasanya dan nampak terlalu aneh muncul dari mulutnua sendiri. Maksudnya, kita maklum jika boneka cabul Ted atau tokoh dalam animasi Family Guy yang melontarkan lelucon-lelucon pedas yang cabul, namun saat MacFarlane sendiri yang melontarkannya? Apa dia terlalu tampan dan imut untuk mengatakan lelucon tersebut. Apa mungkin Seth MacFarlane lebih cocok mengisi suara tokoh-tokoh animasi tersebut dengan dialog khasnya ketimbang muncul dilayar lebar menampakkan wujud aslinya? Mungkin iya.
Formula komedi di film ini terlalu generik sehingga terlalu banyak klise yang tak mampu membuat kelucuan. Usaha untuk menertawakan kebiasaan para koboy jaman dulu juga terasa sangat datar dan malah membuat film menjadi kehilangan roh Western yang sudah sangat melekat dibenak penonton. Seth nampaknya harus berusaha lebih keras di film berikutnya. Jika tidak, seperti yang dibilang tadi, dia harus kembali menyuarakan tokoh tertentu saja karena suaranya lebih menjual daripada tampangnya yang boyish.

Hollywoof! thinks A MILLION WAYS TO DIE IN THE WEST deserves just a flat C+

Memorable scene:
Jamie Foxx sebagai Django di akhir cerita muncul sebagai cameo. Hilarious.

A MILLION WAYS TO DIE IN THE WEST
Genre              :           Komedi
Sutradara        :           Seth MacFarlane
Penulis             :           Seth MacFarlane
Pemain            :           Seth MacFarlane, Liam Neeson, Charlize Theron, Amanda Seyfried
Durasi              :           116 menit


Blast From The Past - HOW TO LOSE A GUY IN 10 DAYS (2003)





 
There isn’t a diamond in the room that sparkles like a woman in love


A review by Ellicute

HOW TO LOSE A GUY IN 10 DAYS memajang nama-nama aktris dan aktor top Hollywood. Siapa yang tidak kenal dengan Kate Hudson, aktris spesialis film komedi romantis (Bride Wars, Something’s Borrowed, Raising  Helen) dan si aktor seksi  Matthew McConaughey (Failure to Launch, The Wedding Planner)? Duet maut pasangan ini menjadikan film ini sangat layak untuk ditonton oleh romcom freak.

Di film ini Hudson berperan sebagai Andie Anderson, penulis majalah wanita Composure, yang berkeinginan untuk menjadi penulis artikel yang lebih berbobot seperti politik, ekonomi, atau tentang kemiskinan. Sedangkan McConaughey sendiri berperan sebagai Benjamin Barry seorang eksekutif muda dibagian periklanan yang berusaha memenangkan tender yang ia idam-idamkan.


Film HOW TO LOSE A GUY IN 10 DAYS ini menceritakan tentang pertaruhan yang dilakukan oleh Andi dan McConaughey terhadap suatu hubungan percintaan. Andi dengan misinya “bagaimana mencampakkan laki-laki dalam 10 hari?” dan menuliskan pengalamannya tersebut kedalam artikel di majalah Composure. Dan Ben juga memiliki misinya yang harus ia penuhi dalam seminggu. Misinya adalah membuat seorang wanita jatuh cinta dalam satu minggu. Jika ia berhasil maka kontrak iklan berlian akan jatuh padanya.  Dan orang yang dipilih menjadi target dalam taruhannya adalah Andi. Begitu juga Andi memilih Ben sebagai calon pria yang akan dicampakkannya.

Layaknya film romcom yang so cliche and menye-menye (that what romcoms are for!!!), Ben dan Andi saling jatuh cinta tanpa mereka sadari. Dan pertaruhan mereka lakukan akhirnya menjadi boomerang bagi kehidupan percintaan mereka.  Sisa ceritanya silahkan ditonton sendiri.

Film ini mengetengahkan chemistry yang ke to the ren (baca keren) dari akting Hudson dan romcom freak. Kelebihan film ini adalah para penonton disuguhkan cerita yang tidak membuat sakit kepala dikarenakan harus berpikir tentang endingnya, tetapi film ini lebih memberikan harapan dan pemikiran kepada para romcom freak bahwa ada laki-laki seksi dan tampan seperti Ben yang bisa ditemui diluar sana dan menunggu untuk ditemukan. Memikirkannya saja membuat hati terasa hangat...LOL.
McConaughey yang tidak perlu diragukan lagi diitambah pesona kecantikan Hudson dan keseksian McConaughey, menjadikan film ini menjadi tontonan wajib bagi para

Film ini asik ditonton sendirian tapi lebih asik lagi jika ditonton diacara Ladies’ night sambil pajamas party bersama sahabat wanitamu dan sekotak pizza ukuran large dan softdrink sebagai pelengkap menonton film ini.

Memorable scene:
Ketika Andie dan Ben memutuskan untuk melakukan couples therapy demi memperbaiki hubungan mereka dan therapist yang didatangi mereka adalah sahabat sekaligus rekan kerja Andie di Composure. Banyak adegan kocak di adegan itu. If you know what I mean!

Hollywoof! gives: A-

HOW TO LOSE A GUY IN 10 DAYS

Genre        : Romantic Comedy
Sutradara    : Donald Petrie
Penulis        : Michelle Alexander dan Jeannie Long
Pemain        : Kate Hudson dan Matthew McConaughey
Durasi        : 116 menit



Saturday, 21 November 2015

Hours (2013) - Every Second Counts


Opini yang akan di sampaikan tentang film ini bisa jadi sedikit bias. Bagi penggemar berat Paul Walker dan masih menyisakan kesedihan atas meninggalnya sang aktor tampan ini, Hours bisa jadi sangat berkesan dan mampu membuat mata berkaca-kaca. Dan Hours menjadi kenangan manis tak terlupakan.

Premis yang diusung Hours tergolong sederhana. Berkisah tentang Nolan Hayes yang mengantar sang istri bersalin di sebuah rumah sakit. Malangnya, sang istri Abigail, tak bisa diselamatkan. Disaat Nolan masih bingung dengan apa yang dialaminya, sang bayi yang baru lahir harus masuk di inkubator neonatal. Hayes sedikit geram saat melihat jenazah sang istri ditelantarkan begitu saja oleh pihak rumah sakit. Belum lagi kebingungan dan kegeramannya surut, terdengar kabar jika Badai Katrina makin mendekat. Jalan satu-satunya adalah melakukan evakuasi. Nolan Hayes makin bingung lantaran tidak mungkin dia meninggalkan bayinya, sementara inkubator yang dibutuhkan sang bayi tak akan bertahan lama.

Dengan berat hati, Nolan harus tetap tinggal di rumah sakit yang makin bertambah menit makin gelap gulita tanpa listrik. Nolan harus secara berkala mengengkol generator inkubator yang cuma bertahan beberapa menit itu. Sementara badai makin kencang dan bantuan entah kapan akan datang.

Dalam kegelapan, Nolan tak hanya berhadapan dengan masalah makanan dan listrik. Penjarah keji pun berkeliaran dengan senjata api. Apa jadinya jika para penjarah juga mengincar apa yang dibutuhkan putri kecilnya?

Hours menyajikan ritme cerita yang lambat namun tetap membuat suasana tegang yang mengesankan. Kesederhanaan plot membuat cerita menjadi lebih realistis. Setting yang minim tempat dan cahaya masih bisa membuat film ini bergerak leluasa mengeksplorasi karakter dan ketegangan. Flashback yang diberikan juga mampu memberi background cerita dengan ekplorasi karakter yang memadai.

Paul Walker harus diakui telah memberi penampilan yang berkesan dan patut dipuji. Gerak-gerik dan raut wajahnya mampu menampilkan sosok ayah yang letih secara lahir dan batin dengan pas. Rasa bingung bercampur sedih mampu dia perlihatkan di jenis film yang memang butuh penghayatan peran sangat tinggi ini. Penonton mampu dibuat terbuai secara emosional atas penderitaan ayah muda ini. Ah, lagi-lagi kita menyayangkan kepergian Paul Walker yang tiba-tiba itu. Rest in peace, Paul.

Memorable scene:
Nolan terlihat lelah sambil terus memutar tuas generator inkubator, lalu dia mulai bermimpi tentang istri tercintanya yang telah tiada.

Hollywoof! Memberi nilai A

Hours
Genre        :    Drama
Sutradara    :    Eric Heissere
Penulis        :    Eric Heissere

Pemain        :    Paul Walker, Genesis Rodriguez
Durasi        :    97 menit

Rush (Season 1) - Not Your Regular Doctor!


Serial dengan tokoh protagonis dokter rasanya sudah bejibun. Dokter-dokter yang baik hati sudah mulai mencuri hati mulai dari jaman ER dan  Grey's Anatomy atau yang kategori kurang beken semisal Off The Map atau Miami Medical juga sudah banyak. Dokter-dokter nyentrik yang anti hero pun banyak yang mendapat tempat dihati pecinta serial TV. Duo dokter bedah plastik di Nip/Tuck atau dr. House yang nyentrik punya penggemar yang tak kalah banyak. Lalu apa yang ditawarkan Rush? Para pemeran yang hot? Tidak juga. Cerita yang unik? Nope. Atau dramalurgi yang menyentuh? Umm...gimana ya. Rasanya susah dijabarkan. Namun dengan formula yang generik dengan medical scenes yang tidak terlalu detil, Rush mampu memikat hati penonton.

Rush berkisah tentang seorang dokter cerdas, Will Rush yang menyebut dirinya free agent lantaran tidak bekerja untuk siapapun dan rumah sakit manapun. Lalu siapa pasiennya? Rush kerap mendapat telepon untuk mengatasi masalah-masalah medis yang high profile dari kaum jet set atau malah mafia. Para klien biasanya menghindari pemberitaan atau pertanyaan-pertanyaan pihak berwajib jika masuk ke rumah sakit biasa. Untuk jasanya ini, Rush di bayar super mahal dengan uang cash.


Rush bukanlah dokter baik hati. Sifatnya yang glamor, anti sosial dan nge-drug apa saja membuatnya susah menjaga hubungan cinta yang langgeng dengan perempuan. Di bantu asistennya yang pandai, Eve, Rush menghabisi minggu demi minggu menerima panggilan medical emergency yang aneh dan berpesta narkoba. Selain Eve, penyeimbang kehidupan sosialnya adalah teman kuliahnya yang telah berkeluarga dan punya anak. Hubungannya dengan sang ayah yang juga dokter hebat pun tak harmonis lantaran sang ayah membenci gaya hidupnya yang urakan.

Rush akhirnya sampai pada mementum yang mengharuskan dia meninggalkan gaya hidupnya, namun apakah semudah yang semua orang bayangkan?

Rush adalah drama besutan stasiun televisi USA yang membidik penonton pria yang menyukai drama bermutu. Karakter yang disodorkon abu-abu dengan ritme cerita yang tidak mendayu-dayu. Walau sedikit soapy di akhir season dengan menampilkan kisah cinta ala sinetron, Rush mampu mempertahankan ritme cerita dengan pas hanya dengan 10 episode saja.

Tom Ellis mampu menghadirkan akting memikat sebagai Rush yang flamboyan. Untuk sebuah character driven story, pria tinggi langsing tampan ini mampu menghadirkan kompleksitas pergulatan batin tokoh dengan karakter unik ini. Konflik yang disajikan juga lumayan santai dan tidak terlalu berlebihan walau Rush selalu digambarkan sebagai penyelamat dalam situasi genting dengan imbalan besar. Sayangnya, suntikan konflik pribadi dalam cerita ini terasa sangat generik. Kisah cinta bad boy with good girl, wild single man vs family man, atau side kick vs angry lover terlalu sering ditampilkan. Untungnya Rush terselamatkan dengan konflik per episode yang unik dengan sokongan tampilan James Ellis yang mempesona.

Rush bukan tontonan medical drama yang luar biasa bahkan tokoh unik ini bukan panutan untuk kita, tapi bukankah sesekali kita memang butuh tokoh yang tidak membosankan dengan dilema moral a la Walter White di Breaking Bad kan?

Hollywoof! thinks this drama deserves a solid B

The pro    :     Handsome doctor with quirky life style
The con    :     Common conflicts


Rush Season 1

Genre              :     Medical Drama
Pemain            :    Tom Ellis, Larenz Tate, Sarah Habe
Durasi per episode    :    43 menit – 10 episode

Wicked Blood (2014) - Thicker Than Blood


Apa jadinya jika dua gadis bersaudara yatim piatu harus terperangkap hidup dengan dua paman yang terlibat narkoba?

Amber (Alexa Vega) dan Hannah ( Abigail Breslin) adalah dua bersaudara yatim piatu. Amber harus bekerja sebagai pelayan di sebuah diner sementara Hannah masih harus bersekolah. Paman Donny, saudara ayah mereka, tinggal disebuah rumah kotak kumuh. Donny pecandu narkoba yang setiap hari kerjanya menyuntikkan jarum ke lengannya. Namun anehnya Hannah tetap sayang dan tetap merawatnya. Sebaliknya, Paman Frank, saudara ibu mereka, dia seorang bandar narkoba besar di tempat itu yang tak tersentuh aparat hukum.

Hannah berkeinginan mencari uang tambahan dengan menawarkan diri ke Paman Frank sebagai kurir mereka. Berkilah jika polisi tak akan mencurigai remaja SMA bersepeda sebagai kurir narkoba, Paman Frank setuju saja.

Lain halnya Amber, Wanita ini bertemu pria simpatik, Bill, di diner tempat dia bekerja. They fell in love. Yang tak Amber ketahui adalah Bill merupakan salah satu dealer Paman Frank. Tentu saja Hannah sering bertemu dengan Bill dan sifat Bill yang ramah membuat  Hannah dan Bill menjadi akrab dan berteman.

Hingga suatu hari terjadi friksi antara Bill dan Frank, pertumpahan darah pun terjadi. Kemudian, anak buah Frank, Bobby, mengetahui jika Amber adalah kekasih Bill dan melakukan hal buruk pada Amber. Hannah tidak tinggal diam, gadis remaja ini melakukan hal yang tak pernah dibayangkan orang sebelumnya.

Barulah nanti terungkap sebenarnya apa motivasi Hannah menjadi kurir dan siapa sebenarnya Bill. Di menit-menit terakhir, klimaks terjadi antara Bill dan dua paman Hannah itu.
Wicked adalah drama yang tidak terlalu berambisi besar. Menilik pemainnya yaitu Alexa Vega, Abigail Breslin, Sean Bean, dan James Purefoy, memang sudah familiar dengan para pecinta film. Namun ke empat nama tersebut diyakini belum mampu mengangkat film drama lambat ini. Sadar diri akan susahnya meraup penonton, Wicked Blood cukup puas dengan hanya menjadi film straight to DVD saja.

Namun harus diakui, kelima pemeran utama film ini bermain sangat bagus. Sean Bean yang jam terbangnya tinggi seolah tak perlu bersusah payah memerankan bandar narkoba berperangai dingin. Alexa Vega yang dulu masih imut di Spy Kid, kini makin cantik, mampu memerankan sosok kakak yang sering memarahi adiknya namun sebenarnya sayang. Lew Temple yang memerankan paman Donny sang pecandu juga cukup menjiwai perannya. Sementara James Purefoy tetap solid berperan sebagai Bill, tokoh misterius yang menjadi kunci cerita ini. Dan tentu saja, Abigail Breslin adalah nyawa film ini. Tokohnya tak hanya menjadi segala sumber konflik dalam plot, namun cerita film ini juga dinarasikan oleh Hannah dengan puisi-puisi beraroma permainan catur. Abigail Breslin yang mantan bintang cilik ini mampu menjiwai semua kegalauan dan penderitaan si cilik Hannah yang harus dia tanggung sendiri. Mungkin banyak yang setuju jika ini merupakan one woman show untuk Abigail Breslin.

Wicked memang bertempo lambat. Namun klimaks film ini seolah membayar semua kesabaran penonton yang mungkin telah memejamkan satu mata di 30 menit pertama. Drama ini tak berisi cerita yang membuat kita meneteskan airmata atau kesal dan mengutuk antogonisnya. Wicked cukup bersahaja dengan cerita tokoh gadis belia tangguh yang harus menanggung masalah besar sementara gadis-gadis seusianya bebas bergembira di luar sana. Patut ditonton jika anda bosan dengan film-film besar yang bersliweran tiap minggu dibioskop.


Hollywoof! memberi nilai: B-

Memorable Scene: Hannah with the granade

Genre        :    Drama
Sutradara    :    Mark Young
Penulis     :    Mark Young
Pemain       :    Abigail Breslin,  Alexa PenaVega, Sean Bean
Durasi        :    92 menit



Friday, 20 November 2015

Scream (Season 1) - Pelecehan Terhadap Warisan Hebat Wes Craven


Trilogi Scream yang dimainkan dengan apik oleh Neve Campbell, Courtney Cox, David Arquette dan sederet bintang-bintang keren lainnya yang menjadi bintang tamu (baca: tewas), memang tidak sempurna sebagai horor slasher. Namun karya besar Wes Craven ini mungkin akan selamanya menjadi referensi bagaimana film horor slasher remaja yang dipenuhi adegan tegang, dialog cerdas dan twist ending yang bikin penonton penasaran dibuat dengan sangat apik dan rapi.

Bahkan setelah satu dekade, Wes Craven masih merasa bahwa kisah Sidney Presscot ini masih bisa dilanjutkan. Walau banyak yang pesimis, Scream jilid keempat ternyata panen banyak pujian. Di antara tumpukan horor slasher yang tidak ada juntrungan, Scream 4 dengan cerdasnya menohok film-film horor sejenis dengan jalan cerita dan dialog cerdas yang sudah menjadi ciri khasnya.

Kini MTV, dengan segala sentuhan kekiniannya, mencoba mengemas serial dengan judul yang sama. Lalu apakah formula yang sama bisa dengan efektif dituangkan dalam bentuk serial?

Rasanya tak perlu diceritakan secara detil tentang seperti apakah kekinian yang ditampilkan diserial ini. Karena percuma saja jika faktor tersebut tidak dibalut dengan plot yang baik. Scream versi serial terlihat seolah ingin sekali setia dengan versi aslinya, namun kentara sekali ingin tampil berbeda. 'Reinkarnasi' tokoh-tokoh penting di versi film disempalkan membuat banyak fans versi filmnya bernostalgia. Namun, bahayanya adalah fans akan membandingkan dan jika perbandingan tersebut tidak memuaskan mereka, tentu saja akan menghasilkan caci maki.

Para pecinta versi filmnya tentu akan serta merta mencari mana Sydney Prescott-nya atau, mana Gale Weather-nya? dan tentu saja akhirnya merasa kecewa saat menemui tokoh-tokoh kesayangan mereka tidak layak dihidupkan di layar kaca dengan karakterisasi yang sangat dangkal.

Mengemas kisah pembunuhan dengan belasan episode dengan membawa nama besar Scream adalah tugas yang berat. Sama beratnya dengan menentukan siapa yang harus mati di tiap episode dan siapa yang harus selamat di akhir cerita. Belum lagi plot yang harus dipikirkan tiap episode agar cerita tidak berputar-putar tidak karuan.

Scream versi serial sebaiknya tidak usah dikait-kaitkan dengan Scream versi layar lebar. Anggap saja ini adalah serial adaptasi bebas yang cuma ditonton untuk selingan yang terinspirasi dari filmnya. Jika kalian berharap akan menemukan level ketegangan yang sama saat menonton versi filmnya, maka siap-siap kecewa saja.

Scream layak tonton karena: judulnya Scream.

Coldwater (2013) - We will re-adjust you!


Brad yang sedang terlelap di kamarnya tiba-tiba dibangunkan oleh dua pria tegap yang mirip tentara. Remaja tanggung ini di paksa masuk kedalam van disaksikan oleh ibu kandungnya yang terisak. Esok paginya Brad dilempar keluar dari van bersama beberapa remaja pria lainnya di sebuah kawasan terisolir yang dijaga ketat oleh pria-pria tegap lainnya.

Ternyata Brad di bawa ke sebuah camp rehabilitasi berbasis militer lantaran orang tuanya sudah tak sanggup lagi menangani kebengalan dan sikap buruknya tersebut. Di Amerika ada banyak akademi non formal semacam pusat rehabilitasi yang dikelola pensiunan militer yang bertujuan membentuk mental anak-anak remaja yang salah langkah. Para orang tua rela membayar sejumlah uang untuk meluruskan tingkah laku anak mereka dengan mengirimnya kesana. Jika Juvie Detention dikelola pemerintah dan lebih semacam penjara anak-anak dengan masa hukuman yang jelas, maka camp rehabilitasi ini punya masa pembentukan yang berbeda untuk tiap individu yang dikirim kesana.

Lewat adegan flashback sepanjang film, penonton diberi tahu mengapa Brad harus dikirim ke tempat semacam ini. Brad bekerja di sebuah bengkel bersama teman karibnya Gabriel. Untuk menambah uang saku, Brad nyambi menjadi pengedar narkoba. Hubungannya dengan sang ibu dan calon ayah tirinya tidak harmonis, sementara sang pacar juga tidak ingin Brad melakukan pekerjaan haram itu lantaran banyak resikonya. Suatu malam di pesta, terjadilah peristiwa tragis yang bahkan Brad sendiri merasa pantas dikirim ke camp yang akan merubah jalan hidupnya.

Hari-hari Brad di dalam camp rehabiltasi sangat melelahkan. Di gembleng ala tentara, Brad bersama rekan-rekannya harus lari dan mencangkul tiap hari, makan dan minum terbatas, bahkan terkadang menerima siksaan yang tidak manusiawi. Perlahan Brad melihat sesuatu yang tidak beres di tempat ini. Pemimpin yang di panggil kolonel, seorang pensiunan tentara, bertindak semena-mena tanpa belas kasihan. Bahkan saat seorang remaja, Jonas, tertabrak kendaraan, pihak camp mengobati seadaanya. Parahnya lagi, walau kaki Jonas masih luka, dia dipaksa lari dan disiksa. Akibatnya kaki remaja malang itu mengalami infeksi dan harus di amputasi.

Brad mencoba melarikan diri, bahkan mengadu ke sherif setempat. Namun apa daya, karena tidak ada bukti kuat maka Brad harus di kembalikan lagi ke tempat yang seperti neraka itu baginya. Siksaan demi siksaan dialaminya dan mau tak mau dia harus beradaptasi dan mengikuti irama hidup di camp ini entah untuk berapa lama.

Masalah mulai timbul lagi saat teman karibnya dulu, Gabriel ikut masuk dalam camp ini. Dua remaja yang dulu bersahabat karib ini menjadi musuh bebuyutan. Gabriel membangkang diatur oleh Brad yang kini menjadi pimpinan regu. Dan sebuah tragedi memilukan membuat Brad mengatur siasat agar kebusukan di camp ini tercium aparat. Lalu bagaimana nasib Brad saat terjadi pembunuhan masal di camp Coldwater ini terjadi? Siapa saja yang menjadi korban? Bagaimana persahabatannya dengan Gabriel selanjutnya?

Coldwater adalah film drama thriller diluar tipikal film Hollywood kebanyakan. Ritme cerita yang lambat namun menegangkan membuat adegan demi adegan miris yang disodorkan membuat penonton terenyuh. Sutradara begitu cerdas menyelipkan adegan-adegan flashback Brad disela-sela cerita 'pelatihan' ala tentara di camp Coldwater. Cerita begitu efektif diketengahkan karena tak ada nama besar di film ini. Aktor muda tampan pendatang baru P.J Boudousque pernah tampil sekilas di serial hit Bones dan American Horror Story tampil sempurna dengan wajah tampan dan tubuh tingginya sebagai Brad Lunders. Wajah dan perawakannya mirip sekali dengan Ryan Gosling muda. Rasanya tak perlu waktu lama bagi P.J Boudousque untuk menjadi bintang besar jika pilihan film yang ditawarkan padanya sebaik pilihan film-film drama Ryan Gosling.


Coldwater berisi adegan-adegan penyiksaan yang cukup berdarah-darah yang membuat penonton ngilu, jadi siapkan mental anda sebelum menyaksikan film yang menyabet piala di Las Vegas Film Festival. Ending yang ditawarkan film ini begitu cerdas dan membuat penonton terus berpikir setelah film usai bagaimana nasib Brad selanjutnya.

Terlepas dari tuduhan adanya agenda tersembunyi untuk merusak reputasi camp rehabilitasi a la pendidikan militer di sana, Coldwater adalah film yang luar biasa. Sinematografi yang jempolan, akting bintang-bintang baru tapi super cemerlang, dan music score yang minim namun efektif dengan ritme cerita yang penuh suspense membuat film ini menuai banyak pujian. Bagi anda yang menyukai film dengan cerita berkualitas yang menentang derasnya mainstream Hollywood, cobalah Coldwater. It is really worth your time

Hollywoof! thinks COLDWATER deserves a solid A+

Memorable scenes:
Saat kita berpikir film telah usai, kita disodori lagi flashback yang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Brad dan Colonel. Juga adegan saat Brad crying in the shower. So emotional and touching.

Coldwater
Genre        :    Drama
Sutradara    :    Vincent Grashaw
Penulis        :    Vincent Grashaw
Pemain        :    P.J Boudousque, Chris Petrovski
Durasi        :    105

Wednesday, 18 November 2015

The Final Girls (2015) - Masuk ke Film Horor dan Siap Mati, Mau?


Sekali-sekali coba sempatkan menonton film dengan tema yang absurd alias gak jelas. Dan, The Final Girls mungkin menjadi pilihan yang tepat. Pernah menonton film Pleasantville? Film lawas yang dibintangi Reese Witherspoon, Tobey McGuire dan Paul Walker muda tersebut berkisah tentang dua kakak adik yang selalu rebutan remot kontrol televisi. Suatu ketika pria aneh memberi mereka sebuah remot kontrol ajaib yang membuat mereka masuk kedalam drama televisi hitam putih. Nah, kurang lebih The Final Girls punya premis serupa, namun apa jadinya kalau lima remaja masuk kedalam film horor slasher dan bisa tewas beneran?

Istilah final girl (cewek terakhir) sebenarnya merujuk pada terlalu seringnya film-film horor atau tegang yang bertema pembantaian yang menyisakan seorang cewek sebagai satu-satunya tokoh protagonis yang selamat. Coba perhatikan film-film seperti Aliens, Halloween, Texas Chainsaw Massacre, Wrong Turn, The Thing, dan sebagainya, pasti ada seorang cewek yang berhasil selamat dan membunuh si pembantai.

The Final Girls berkisah tentang Max, cewek remaja yang ditinggal mati sang ibu. Ibunya Max dulunya pernah main di sebuah film slasher klasik yang dianggap menjadi pioner di genrenya. Suatu ketika Max dan keempat temanya menonton kembali film tersebut di bioskop. Tanpa sengaja, bioskop terbakar dan jalan keluar satu-satunya adalah lewat layar bioskop. Namun apa jadinya jika ternyata mereka masuk ke dalam film tahun 80an tersebut dan harus menyaksikan semua tokoh tewas dibantai, termasuk mereka juga? Dan apa reaksi Max saat melihat lagi sang ibu yang sudah dipastikan akan tewas juga?

Penggemar film yang biasa menonton film slasher, akan dengan mudah memaklumi aburditas yang ada di film ini. Humor yang ditampilkan juga terasa unik dan dipenuhi referensi film-film terkenal lain. Dengan gampang kita bisa menangkap adegan-adegan klise dalam film slasher yang dijadikan guyonan.

Di tengah lelucon yang terkadang hanya dimengerti fans film horor slasher, ada terselip kisah serius tokoh Max yang ingin menyelamatkan sang ibu. Plot inilah yang menjadi benang merah dan membuat plot Final Girls menjadi hidup. Lalu siapakah yang akan menjadi cewek terakhir?

The Final Girls dipenuhi wajah-wajah yang sering wara-wiri di banyak film dan serial televisi. Ada Nina Dobrev yang baru pensiun dari The Vampire Diaries, ada Alexander Ludwig yang baru saja main di film lain berjudul sama: Final Girl dengan Abigail Breslin, Ada Malin Akerman, Adam Devine dan tentu saja pemeran utamanya Taissa Farmiga yang beken lewat American Horror Story.

The Final Girls bukan tipikal film 'normal' yang biasa kita saksikan, tapi seperti yang dibilang diawal, jika kalian ingin sesekali menyaksikan kisah absurd dengan lelucon yang segmented, maka The Final Girls patut dicoba.

Hollywoof! memberi nilai B+

The Final Girls patut ditonton karena barisan bintang dan juga lelucon satirnya.

Strangerland (2015) - Oh My God, Ya Ampun, Ugh!



Nicole Kidman adalah aktris papan atas yang kualitas aktingnya tak bisa dipungkiri lagi. Maka jika Strangerland banyak dicaci maki,salahkanlah plotnya yang membuat penonton menunggu sesuatu yang tidak jelas.

Strangerland dari awal sebenarnya mempunyai premis yang generik. Sudah tak terhitung banyaknya film berkisah tentang anak yang hilang. Di setengah jam pertama, penonton disodori kisah tentang pasangan suami istri yang beranak dua remaja. Mereka pindah ke kota kecil ditengah gurun pasir di Australia sana. Saat badai pasir datang, kedua anak pasangan tersebut hilang. Dan pencarian pun dimulai.

Lalu apa yang salah? Proses pencarian yang sangat menjemukan. Selama dua jam penonton diajak mengulik lapis demi lapis setiap tokoh secara psikilogis. Penonton yang terpesona dengan akting berbobot Nicole Kidman, Joseph Fienes, dan Hugo Weaving masih bersabar menunggu akhir cerita apakah kedua anak yang hilang tersebut ditemukan. Sementara penonton yang tak tahan dengan begitu lambatnya plot dan ritmenya yang monoton dipastikan akan menyerah.

Tragisnya, penonton yang sabar tidak diberi imbalan yang setimpal. Tak ada twist ending yang kebanyakan ditunggu. Yang ada adalah kesimpulan yang membuat penonton melongo sambil menyesali hilangnya dua jam akibat menonton film ini.

Dark drama memang tak bisa dinikmati setiap orang. Jika kalian mencari kepuasan dari kualitas akting mumpuni para bintangnya, sinematografi yang luar biasa bagus, dan konflik psikologis tiap tokoh, maka Strangerland adalah pilihan yang tak boleh dilewatkan. Namun jika kalian menyukai drama orang hilang yang penuh twist dan ketegangan dengan akhir cerita mengejutkan, maka hindari film ini.

Hollywoof! memberi nilai C untuk plot, tapi B untuk akting dan sinematografinya.

Strangerland patut ditonton jika tak ada film lain yang bisa ditonton.

Baca Juga

Powered by Blogger.

Pengunjung

Sponsor

Hottie of The Month

Hottie of The Month
Klik Foto

HiStats

 

© 2013 Hollywoof! . All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top