Wednesday, 4 November 2015

Knock Knock (2015)

11:13:00

Don't let them in!

Ada penghararpan besar dari film satu ini saat tahu ternyata Eli Roths ada di belakang kursi penyutradaraan. Sineas satu ini pernah membuat kita bergidik lewat Cabin Fever dan juga Hostel. Saat tahu juga ternyata Keanu Reeves tak hanya menjadi bintang utama, namun juga sebagai produser maka makin besarlah harapan kita terhadap film ini. Tapi belum sampai setengah durasi, penonton harus dibuat jengkel setengah mati dengan film ini? Ada apa gerangan? Baiknya kita simak dulu plotnya.



Keanu Reeves berperan sebagai ayah muda yang bahagia. Punya istri cantik dan dua anak lucu-lucu.Lengkaplah hidupnya. Suatu ketika istri dan anak-anaknya berlibur ke pantai sehingga dia harus tinggal sendirian di rumah beberapa hari dengan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan. Di malam hari saat hujan lebat, dua wanita muda mengetuk pintu. Mengaku tak menemukan alamat yang mereka cari, dua wanita seksi ini meminta tolong agar dipinjami telpon untuk menghubungi temannya. Tanpa curiga, tentu saja Evan Webber (tokoh yang diperankan Keanu Reeves) mempersilahkan mereka masuk.

One thing leads to another. Dari sekedar ngobrol biasa, Evan dan dua wanita seksi ini berhubungan intim. Saat terbangun, Evan semula mengira tamu-tamunya ini telah pergi. Namun yang ia dapati adalah sebaliknya, mereka dengan menjengkelkannya menganggap rumah itu seperti rumah mereka sendiri. Tentu saja Evan kesal, dan juga penonton tentunya. Namun saat diusir, mereka malah mengancam akan melapor ke polisi dengan mengaku bahwa mereka masih di bawah umur. Cerita pun bergulir, hingga nantinya dua wanita ini menggila, menjadikan Evan tawanan di rumahnya sendiri, bahkan hingga membunuh temannya.

Lalu apa yang salah dengan film ini?

Pertama, plot Knock Knock menyalahi pakem film bertema revenge atau balas dendam. Penonton akan mengira kalau ternyata Evan punya dosa besar terhadap dua tamu tak diundangnya yang akan terungkap di akhir cerita. Namun ternyata Evan adalah pria baik-baik yang hanya terbawa suasana yang tentu saja bisa dimaklumi banyak orang. Di malam saat Evan melampiaskan nafsunya, sang istri sudah tiga minggu tak memberinya 'jatah'. Pria mana sih yang tak tergiur saat ada dua wanita seksi mengetuk pintunya di malam yang dingin? Okelah jika penonton wanita tetap menganggap Evan tukang selingkuh. Tapi tetap saja kesalahan yang dibuatnya tak membuatnya layak diperlakukan seperti itu.

Kedua, coba pikirkan, siapa yang tak kesal dengan tokoh Evan yang berperawakan tinggi besar namun bisa dipecundangi oleh dua wanita yang tak punya keahlian bela diri. Jika memang harus terpaksa membunuh kedua wanita tersebut, penonton yakin Evan tidak akan di penjara lantaran wanita itu sudah memasuki rumahnya tanpa izin. Apalagi dengan dukungan pengacara handal, maka dipenjara 10 hingga 15 tahun bukanlah ancaman baginya.

Ketiga, dua wanita tamu tak diundang ini sungguh mengesalkan. Kecuali mereka pengidap penyakit jiwa, alasan mereka merusak hidup Evan sangatlah tidak masuk akal. "It's all just a game" ujar mereka di akhir cerita. Dengan dalih apapun, Evan tak layak diperlakukan seperti itu. Di akhir cerita penonton berharap dua wanita biadab ini kena batunya atau paling tidak istri Evan akan menuntut balas, namun hingga cerita usai, mereka dengan mudahnya meninggalkan Evan dengan kekacauan dan bencana yang mereka buat.

Entah apa pesan moral yang ingin disampaikan Eli Roth. Yang jelas, film ini tak memberi pengalaman menonton yang baik. Yang ada, perasaan jengkel sepanjang menontonnya sangat tidak terbendung.
Hollywoof! memberi nilai C-

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

2 komentar:

  1. Nyaris mau nonton film ini juga dgn harapan, ni film bakal jd gebrakan Keanu, karna ni film udah gak main di cinema, so puter balik nonton the last witch hunter.. gak ada beda.. nggak rekomendit pokoknya

    ReplyDelete

 

© 2013 Hollywoof! . All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top